Selasa, 16 Juli 2013

Nabi Ayub Pun Kan Tersenyum

Allah mencintai hamba-hamba-Nya dengan cara yang unik dan berbeda-beda. Semakin tinggi ketakwaan seorang hamba, semakin unik cara Dia mencintainya. Salah satunya adalah Nabi Ayub. Lelaki yang diamanahkan Allah untuk mengemban misi ketuhanannya itu dicintai Allah dengan penyakit yang sangat parah. Tak tanggung-tanggung, karena penyakitnya itu, Ayub alaihi salam dijauhi sahabat dan kerabatnya. Mereka tak tahan berdekatan lantaran aroma tak sedap dan takut tertular.
Maha suci Allah yang telah menciptakan manusia semulia Ayub. Ia tak pernah membenci Allah dengan takdirnya, tak pula ia merasa bahwa Tuhan yang dicintainya itu tak adil terhadapnya. Semakin berat sakit yang dirasa, semakin cinta Ayub kepada Allah. Dan mulianya Ayub, semakin parah penyakitnya semakin ia tersenyum. Allah dan para malaikat pun kan tersenyum oleh kesabaran lelaki mengagumkan itu.
Memang takkan sebanding jika sekarang saya mengajukan sebuah nama untuk menyandingkannya dengan Nabi Allah itu. Namun teramat banyak saya harus belajar tentang arti kesabaran dan cinta kepada Allah dari sahabat yang satu ini. Hesti, alias Titi yang lima belas tahun menderita radang sendi sehingga ia kini hanya bisa tergolek tak berdaya di kamar tidurnya. Namun ia tetap terlihat ceria dan bersemangat menjalani hidupnya. “Saya ingin terlihat tetap bersyukur, dan saya ingin tersenyum saat harus menghadap-Nya,” ujar gadis itu.
Kemarin saat bertelepon dengannya, saya bertanya satu hal yang paling tidak ingin saya tanyakan kepadanya karena khawatir menyinggung perasaannya. “Mbak, tak inginkah mbak Titi sembuh?”
Saya tak pernah menyangka jawabannya. “Tidak, sebaiknya saya tetap seperti ini sambil Allah memberikan kehendaknya.”
Titi pun menjawab penasaran saya yang seolah bertanya, “kenapa.” Menurutnya, ia amat bersyukur Allah menimpakan penyakit ini kepadanya, meski sudah sangat lama ia menjalani hari-harinya di kamar tidur. Hidup dengan bantuan orang lain, bahkan untuk ke kamar kecil sekali pun. Radang sendi yang dideritanya membuat seluruh persendiannya sakit tak berdaya. Ia membutuhkan bantuan orang lain untuk seluruh aktivitasnya.
Tapi Titi tetap tersenyum. “Kalau saya sembuh, saya tidak yakin akan tetap sedekat ini dengan Allah. Saya tak pernah yakin akan tetap khusuk beribadah, akan menangis di setiap sujud panjang saya jika saya bisa berdiri dan sehat. Boleh jadi saya akan menjauh dari-Nya, hidup dalam kesenangan yang membuat saya lupa akan kematian,” tuturnya.
“Jadi, mbak tidak ingin sembuh?” tambah saya yang semakin termangu oleh kata-kata ajaibnya.
“Biarlah saya tetap seperti ini. Saya yakin Allah sedang mencintai saya dengan takdirnya. Jujur, saya tak ingin sembuh karena saya takut Allah tak lagi mencintai saya.” Duh, Titi rasanya tak ada alasan Allah tak mencintaimu. Sungguh saya iri kepada Titi, karena saya yakin Nabi Ayub akan pun tersenyum melihat Titi. ***

Senin, 11 Maret 2013

Mukjizat Allah yang Mencengangkan Para Ilmuwan Barat

Pada sebuah penelitian ilmiah yang diberitakan oleh sebuah majalah sains terkenal, Journal of Plant Molecular Biologies, menyebutkan bahwa sekelompok ilmuwan yang mengadakan penelitian mendapatkan suara halus yang keluar dari sebagian tumbuhan yang tidak bisa didengar oleh telinga biasa. Suara tersebut berhasil disimpan dan direkam dengan sebuah alat perekam tercanggih yang pernah ada.


Para ilmuwan selama hampir 3 tahun meneliti fenomena yang mencengangkan ini berhasil menganalisis denyutan atau detak suara tersebut sehingga menjadi isyarat-isyarat yang bersifat cahaya elektrik (kahrudhoiyah ) dengan sebuah alat canggih yang bernama Oscilloscope. Akhirnya para ilmuwan tersebut bisa menyaksikan denyutan cahaya elektrik itu berulang lebih dari 1000 kali dalam satu detik!!!

Prof. William Brown yang memimpin para pakar sains untuk mengkaji fenomena tersebut mengisyaratkan setelah dicapainya hasil bahwasanya tidak ada penafsiran ilmiah atas fenomena tersebut. Padahal seperti diakui oleh sang profesor bahwa pihaknya telah menyerahkan hasil penelitian mereka kepada universitas-universitas serta pusat-pusat kajian di Amerika juga Eropa, akan tetapi semuanya tidak sanggup menafsirkan fenomena bahkan semuanya tercengng tidak tahu harus berkomentar apa.

Pada kesempatan terakhir, fenomena tersebut dihadapkan dan dikaji oleh para pakar dari Britania, dan di antara mereka ada seorang ilmuwan muslim yang berasal dari India. Setelah 5 hari mengadakan kajian dan penelitian ternyata para ilmuwan dari Inggris tersebut angkat tangan. Sang ilmuwan muslim tersebut mengatakan: “Kami umat Islam tahu tafsir dan makna dari fenomena ini, bahkan semenjak 1.400 tahun yang lalu!”

Maka para ilmuwan yang hadir pun tersentak dengan pernyataan tersebut, dan meminta dengan sangat untuk menunjukkan tafsir dan makna dari kejadian itu.

Sang ilmuwan muslim segera menyitir firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَكِنْ لا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا (٤٤)

“…Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Isra`: 44)

Tidaklah suara denyutan halus tersebut melainkan lafazh jalalah (nama Allah) sebagaimana tampak dalam layar.

Maka keheningan dan keheranan yang luar biasa menghiasi aula di mana ilmuwan muslim tersebut berbicara.

Subhanallah, Maha suci Allah! Ini adalah salah satu mukjizat dari sekian banyak mukjizat agama yang haq ini! Segala sesuatu bertasbih mengagungkan nama Allah. Akhirnya orang yang bertanggung jawab terhadap penelitian ini, yaitu profesor William Brown menemui sang ilmuwan muslim untuk mendiskusikan tentang agama yang di bawa oleh seorang Nabi yang ummi (tidak bisa baca tulis) sebelum 1.400 tahun lalu tentang fenomena ini. Maka ilmuwan tersebut pun menerangkan kepadanya tentang Islam, setelah itu ia memberikan hadiah al-Qur`an dan terjemahnya kepada sang profesor.

Selang beberapa hari setelah itu, profesor William mengadakan ceramah di Universitas Carnich – Miloun, ia mengatakan: “Dalam hidupku, aku belum pernah menemukan fenomena semacam ini selama 30 tahun menekuni pekerjaan ini, dan tidak ada seorang ilmuwan pun dari mereka yang melakukan pengkajian yang sanggup menafsirkan apa makna dari fenomena ini. Begitu pula tidak pernah ditemukan kejadian alam yang bisa menafsirinya. Akan tetapi satu-satunya tafsir yang bisa kita temukan adalah dalam al-Qur`an. Hal ini tidak memberikan pilihan lain buatku selain mengucapkan syahadatain: “Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang haq melainkan Allah, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusannya!”

Seorang profesor ini telah mengumumkan Islamnya di hadapan para hadirin yang sedang terperangah.

Allahu akbar! Kemuliaan hanyalah bagi Islam, ketika seorang ilmuwan sadar dari kelalaiannya, dan mengetahui bahwa agama yang haq ini adalah Islam!

Senin, 28 Januari 2013

Banyak Pendusta Sebelum Kiamat Terjadi

Muslim meriwayatkan dari hadist Syu’bah dan selainnya, dari Sammak dari Jabir bin Samurah, aku mendengar Rasulullah bersabda : “Akan muncul para  pendusta sebelum kiamat terjadi.” Berkata Jabir : berhati-hatilah terhadap mereka.

Berkata Imam Ahmad : telah menceritakan kepada kami Musa dari Ibnu Luhaiah dari Abu Zubair dari Jabir bahwasanya ia berkata, aku mendengar Rasulullah bersabda : “Sebelum terjadinya kiamat akan muncul para pembohong diantara mereka penduduk Yamamah, penduduk San’a Al;Absy, penduduk Himyar, dan diantara mereka Dajjal dan ia adalah fitnah yang paling besar.” Berkata Jabir : “Sebagian sahabatku berkata jumlah mereka kurang lebih tiga puluh orang.” Ahmad menyendiri dalam riwayat ini.

Dan telah ditetapkan di dalam shahih Bukhari dari Abul Yaman dari Syuaib dari Abu Zinad dari A’raj dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah bersabda : “Tidak akan  terjadi kiamat hingga muncul para pendusta berwujud dajjal kurang lebih tigapuluh orang semuanya mengaku bahwasanya ia utusan Allah.” Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yami’ dari Abdurrazak dari Ma’mar dari Hamaam bin Munabbih dari Abu Hurairah dari Nabi kecuali beliau bersabda : yanba’its (muncul).

Berkata Imam Ahmad : telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far dari Syu’bah, aku mendengar  Ala’I bin Abdurrahman menceritakan dari ayahnya dari Abu Hurairah dari Nabi bahwasanya  beliau bersabda : Tidak akan terjadi kiamat hingga muncul para pendusta berjumlah tigapuluh  orang semuanya mengaku utusan Allah, harta melimpah ruah, fitnah bermunculan, huru-hara semakin banyak,  Abu Hurairah berkata, ditanyakan : Huru-hara yang  bagaimana?  Beliau menjawab : Pembunuhan…pembunuhan….Pembunuhan…. beliau mengucapkannya sebanyak tiga kali.” Ahmad menyendiri dalam jalur ini yang mana hadist sesuai dengan syarat Muslim. Abu Dawud meriwayatkan pula dari AlQa’nabi dari Ad-Darawardi dari Ala’I dengan sanad tersebut, dan dari Hadist Muhammad bin ‘Amr dari Al Qamah dari Abu Salamah dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah bersabda : “Tidak akan terjadi hari kiamat hingga muncul  tiga puluh orang pendusta setiap mereka berdusta kepada Allah dan Rasul-Nya.”

Ahmad berkata, telah menceritakan kepada kami Yahya bin Auf dari Jallas dari Abu Hurairah  dari Nabi beliau bersabda : “Sebelum terjadinya kiamat akan ada sekitar tigapuluh pembohong  semuanya mengatakan : “saya adalah Nabi.” Sanad hadist ini baik dan hasan, Ahmad menyendiri pula dalam riwayat ini.

Ahmad berkata, telah menceritakan kepada kami Hasan bin Musa dari Ibnu Lahiah dari Salamaan bin amir dari Abu Utsman Al Ashbahy, ia berkata, aku mendengar Abu Hurairah berkata, Bahwasanya Rasulullah bersabda, : “akan ada pada umatku para pembohong mereka datang membawa tambahan di dalam hadist yang kalian belum mendengarkannya demikian pula Bapak-bapak  kamu maka berhati-hatilah dan menjauhlah dari mereka agar mereka tidak menipu kalian..”

Di dalam shahih Muslim dari hadist Abu Qilabah dari  Abu Asma’ dari Tsauban, ia berkata, Rasulullah bersabda : “Sungguh akan ada pada umatku para pendusta yang berjumlah tigapuluh orang seluruhnya mengaku bahwa dirinya adalah Nabi, dan Aku adalah penutup para Nabi tidak ada Nabi sesudahku. “

Imam Ahmad berkata, Telah menceritakan kepada kami Abul Walid dari Abdullah bin Ayaad bin Laqiit dari Abaar dari ‘Abdurrahman bin An’am atau Nu’aim Al A’rajy sebagaimana hadist diatas : Abul Walid berkata, Seseorang bertanya kepada Ibnu ‘Umar tentang nikah mut’ah dan ia memiliki wanita yang dinikahinya secara mut’ah? Maka Ibnu Umar menjawab : Demi Allah, tidaklah kami pada zaman Rasulullah ragu dan tidak pula melakukan zina, kemudian Ibnu ‘Umar berkata, Demi Allah, aku telah mendengar Rasulullah bersabda: “Akan ada sebelum kiamat Al Masih Dajjal dan para pembohong  sebanyak tiga puluh orang atau lebih.”
2. Isyarat Nabawiyah bahwasanya akan ada di dalam kaum muslimin orang-orang yang mengajak ke neraka

Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dari hadist Mauraq Al-Ajali dari Ibnu ‘Umar sebagaiman hadist di atas. Ahmad menyendiri dalam riwayat ini. Berkata Al-Hafidz Abu Ya’la: telah menceritakan kepada kami Wasil bin Abdul A’ala dari Ibnu Fudail dari Laits dari Sa’id bin Amir dari Ibnu ‘Umar , Ia berkata, Aku mendengar Rasulullah bersabda:
إِنَّ فِى أُ مَّتِى لَنَيفًا وَسَبْعِينَ دَا عِيًا كَُلُّهُمْ دَاعٍ إِلَى النَّارِ لَوْأَشَاءُ لأَنْبَأْتُكُمُ بِأَسْمَائِهِمْ وَقَبَائِلِهِمْ
 “Sesungguhnya akan ada pada umatku tujuhpuluhan lebih da’i semuanya mengajak ke neraka, jika aku mau akan kukabarkan kepada kalian nama-nama dan suku-suku mereka.” Sanad hadist ini tidak mengapa.

Telah diriwayatkan oleh Ibnu Majah dengan sanad di atas sebuah hadist tentang minum dengan menempatkan mulut di air serta minum dengan tangan, berkata Al-Hafidz Abu Ya’la : telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib dari Muhammad bin Al-Hasan  Al Asady dari Harun bin Shaleh Al Hamdaany dari AlHirs bin ‘Abdurrahman dari Abull Jallas, ia berkata, aku mendengar Ali berkata kepada ‘Abdullah bin Saba’ : celakalah engkau, tak ada satupun  yang sampai kepadaku kecuali akan aku sampaikan kepada manusia, dan aku telah mendengar Rasulullah bersabda: “bahwasanya akan ada sebelum kiamat tiga puluh orang pendusta”, dan engkau salah seorang diantara mereka. Diriwayatkan pula oleh Abu Bakar bin Syaibah dari Muhammad bin Al Husain sebagaimana di atas.

Abu Ya’la berkata, telah menceritakan kepada kami Zahrah dari Jarir dari Tlais dari Bisyr dari Anas, ia berkata, Rasulullah bersabda : “Akan datang sebelum munculnya Dajjal tujuhpuluh lebih pembohong.” Dalam hadist ini terdapat keganjilan adapun di dalam kitab shahih lebih kuat.

Ahmad berkata’ telah menceritakan kepada kami Abdurrazak dari Ma’mar dari Zuhri dari Thalhah bin  ‘Abdullah dari Auf dari Abu Bakar, ia berkata, Musailamah  datang dengan tiba-tiba sebelum Nabi mengucapkan sesuatu, lalu Rasulullah berdiri dan berkotbah, beliau bersabda : “Adapun pria ini yang kalian banyak menceritakannya ia adalah pembohong diantara tiga puluh pembohong yang akan keluar sebelum terjadinya kiamat dan tidak ada satu negeripun kecuali ancaman Dajjal akan menghampirinya.”

Dan juga telah diriwayatkan oleh Ahmad dari Hajjaj dari Laits bin Sa’ad dari Uqil dari Ibnu Syihab dari Talhah dari ‘Abdullah bin Auf dari Iyad bin Nafi’ dari Abu Bakrah kemudian ia menyebutkannya, di dalamnya terdapat tambahan : “Sesungguhnya ia adalah pembohong diantara tiga puluh pembohong yang keluar sebelum Dajjal, dan tidak ada satu negeripun kecuali akan ancaman Dajjal akan menghampirinya.” Ahmad menyendiri dalam riwayat ini dari dua jalur.

Imam Ahmad berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Ja’far al Madany ( Muhammad bin Ja’far ) dari Abbad bin Al Aram   dari Muhammad bin Ishak  dari Muhamm bin Al Munkadir dari Anas bin Malik, ia berkata, Rasulullah bersabda, “Bahwasanya sebelum datangnya Dajjal akan ada tahun-tahun penuh dengan tipu daya, orang yang biasa berkata benar jadi berdusta, dan para pendusta dibenarkan perkataannya, orang yang jujur berkhianat, dan para pengkhianat diberi kepercayaan, dan ruwaibidah pada saat itu turut berbicara, ditanyakan : siapakah ruwaibidah itu ? Beliau menjawab : orang-orang dungu yang ikut berbicara dalam urusan umat.” Sanad hadist ini baik. Ahmad menyendiri pada jalur ini. (Lr-Ibnu Katsir) (Sumber eramuslim)