Sabtu, 23 Januari 2010

Banjir Bandang Hancurkan Proyek 'Tembok Gaza' Mesir


Deras dan tingginya arus banjir bandang yang sejak Rabu (20/1) lalu meredam wilayah Provinsi Sinai Utara dan El-Arish, Mesir, rupanya tak hanya berdampak pada hancurnya rumah dan bangunan-bangunan di wilayah tersebut, tetapi juga merontokkan proyek tembok logam yang dibangun dan ditanam di sepanjang wilayah perbatasan Mesir-Gaza.

Selain menenggelamkan proyek 'tembok logam Gaza' yang ditanam pemerintahan Mesir sejak bulan lalu, banjir juga menghancurkan proyek 'pelabuhan keamanan' yang juga dibangun di wilayah perbatasan. Akibatnya, prosesi pembangunan dua proyek tersebut menjadi terhenti.

Surat kabar independen Mesir, al-Mashry al-Youm (22/1) melansir, banjir di wilayah El-Arish terhitung sangat parah, karena menggenangi hampir seluruh wilayah tersebut, mulai dari Timur hingga Barat. Ketinggian banjir bahkan menenggelamkan puluhan rumah dan komplek wisata.

Pemerintah provinsi El-Arish pun mengevakuiasi ratusan warga yang kehilangan tempat tinggal mereka di masjid-masjid, rumah sakit, dan sekolah-sekolah di bagian wilayah provinsi yang 'selamat' dari banjir.

Banjir juga menghambat penyaluran bantuan kemanusiaan internasional yang tengah didistribusikan untuk penduduk Gaza melalui pintu gerbang Rafah dan kota Shaikh Zayed, yang masih berada di dalam wilayah El-Arish.

Selain menerjang wilayah Timur Laut Mesir, banjir juga menggenangi beberapa wilayah Selatan negara itu, yaitu provinsi Aswan dan El-Menya. Beberapa pakar cuaca dan geologi mengatakan, banjir bandang ini diakibatkan oleh memburuknya cuaca secara ekstrim dan derasnya curah hujan. Banjir dengan kadar ketinggian dan kederasan semacam ini juga tercatat sebagai yang pertamakalinya sepanjang sejarah Mesir modern. (ags/msy)

Rabu, 20 Januari 2010

Berapa Gaji Khalifah Islam?

Ketika diangkat sebagai khalifah, tepat sehari sesudahnya Abu Bakar r.a. terlihat berangkat ke pasar dengan barang dagangannya. Umar kebetulan bertemu dengannya di jalan dan mengingatkan bahwa di tangan Abu Bakar sekarang terpikul beban kenegaraan yang berat. “Mengapa kau masih saja pergi ke pasar untuk mengelola bisnis? Sedangkan negara mempunyai begitu banyak permasalahan yang harus dipecahkan…” sentil Umar.

Mendengar itu, Abu Bakar tersenyum. “Untuk mempertahankan hidup keluarga,” ujarnya singkat. “maka aku harus bekerja.”

Kejadian itu membuat Umar berpikir keras. Maka ia pun, bersama sahabat yang lain berkonsultasi dan menghitung pengeluaran rumah tangga khalifah sehari-hari. Tak lama, mereka menetapkan gaji tahunan 2,500 dirham untuk Abu Bakar, dan kemudian secara bertahap, belakangan ditingkatkan menjadi 500 dirham sebulan. Jika dikonversikan pada rupiah, maka gaji Khalifah Abu Bakar hanya sebebsar Rp. 72 juta dalam setahun, atau sekitar Rp 6 juta dalam sebulan. Sekadar informasi, nilai dirham tidak pernah berubah.

Meskipun gaji khalifah sebesar itu, Abu Bakar tidak pernah mengambil seluruhnya gajinya. Pada suatu hari istrinya berkata kepada Abu bakar, “Aku ingin membeli sedikit manisan.”

Abu Bakar menyahut, “Aku tidak memiliki uang yang cukup untuk membelinya.”

Istrinya berkata, “Jika engkau ijinkan, aku akan mencoba untuk menghemat uang belanja kita sehari-hari, sehingga aku dapat membeli manisan itu.”

Abu Bakar menyetujuinya.

Maka mulai saat itu istri Abu Bakar menabung sedikit demi sedikit, menyisihkan uang belanja mereka setiap hari. Beberapa hari kemudian uang itu pun terkumpul untuk membeli makanan yang diinginkan oleh istrinya. Setelah uang itu terkumpul, istrinya menyerahkan uang itu kepada suaminya untuk dibelikan bahan makanan tersebut.

Namun Abu Bakar berkata, “Nampaknya dari pengalaman ini, ternyata uang tunjangan yang kita peroleh dari Baitul Mal itu melebihi keperluan kita.” Lalu Abu bakar mengembalikan lagi uang yang sudah dikumpulkan oleh istrinya itu ke Baitul Mal. Dan sejak hari itu, uang tunjangan beliau telah dikurangi sejumlah uang yang dapat dihemat oleh istrinya.

Pada saat wafatnya, Abu Bakar hanya mempunyai sebuah sprei tua dan seekor unta, yang merupakan harta negara. Ini pun dikembalikannya kepada penggantinya, Umar bin Khattab. Umar pernah mengatakan, “Aku selalu saja tidak pernah bisa mengalahkan Abu Bakar dalam beramal shaleh.”(sa/berbagaisumber)

Jumat, 04 Desember 2009

Orang - Orang Hebat Di Kereta

Setiap perjalanan pergi pulang ke tempat kerja dengan menggunakan jasa angkutan kereta api, ada hal rutin yang saya akan jumpai dan akan menjadi hiburan tersendiri bagi saya. Yup lalu lalang dan hiruk pikuk pedagang-pedagang kecil yang menjajakan berbagai macam jajanan atau makanan yang sudah cukup modern, juga minuman kemasan dengan berbagai merk yang beragam.

Hampir setiap waktu suara – suara yang khas itu akan mampir ditelinga saya, selain rentetan pengamen – pengamen yang silih berganti menghibur dengan lagu yang kadang sekedarnya alias asal bunyi yang kadang membuat sakit telinga orang yang mendengarnya .

Menyaksikan ibu – ibu yang umurnya mungkin sekitar 40-an dengan tak letihnya atau capek menurut saya dengan segala dagangan dan penganan yang ia jajakan membuat saya begitu takjub melihatnya, bapak-bapak dengan baju yang sekedarnya alias sudah lusuh dan berubah warna dengan tangan yang mengangkat ember minuman air mineral, anak-anak kecil dan lelaki muda yang menawarkan segala macam makanan kecil dan rokok.

Saya cukup yakin pekerjaan ini hampir setiap hari mereka lakukan, dan telah menjadi mata pencaharian untuk mencukupi kebutuhan hidup dan mengepulkan asap dapur agar kehidupan terus berlanjut.

Bapak – bapak dengan wajah kelelahan yang terpancar dari sembutar raut wajahnya, mungkin begitu beratnya kehidupan yang mereka alami, bahkan anak-anak kecil yang kadang-kadang sering melontarkan umpatan-umpatan kotor, entah bagaimana dan dari mana mereka mempelajarinya.

Melihat semua itu saya sedikit berandai – andai untuk menjadi mereka, setiap hari berjalan dari satu gerbong ke gerbong yang lain. Turun dari satu kereta kereta yang lain, dan harus sabar untuk bersaing mencari pembeli dengan persaingan yang terjadi dengan sesama pedagang di kereta.

Entahlah berapa penghasilan sehari yang mereka terima, puluhan ribuankah, ratusan, atau jutaan. Sebesar penghasilan orang-orang penting yang sering muncul dilayar kacakah. Apakah bisa cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup yang saya rasa semakin lama semakin mencekik.

Ah saya rasanya bukan orang-oarang hebat seperti mereka, kadang kala saja saya masih mengeluh untuk keperluan hidup ini, dan tak pernah berpikir untuk menambah sendiri pengahasilan.

Saya jadi teringat dengan ucapan bocah bintang film cilik di sinetron kiamat Sudah Dekat

” Syafeei, kata ibu aku, ketika aku pernah bertanya kenapa Allah itu menjadikan kita orang yang miskin, bukan berarti Allah ngak sayang sama kita. Justru begitu sayangnya Allah sama kita, makanya Ia menjadikan kita miskin, karena Allah tau kita sanggup untuk menjalani kehidupan yang miskin, dibandingkan dengan orang lain”

Ya pedagang-pedagang kecil di kereta dengan penghasilan yang tidak seberapa mungkin, adalah orang – orang hebat yang tak pernah muncul dilayar kaca atau surat khabar, karena anugrah kehebatan dan kedahsyatan untuk menjalani kehidupan sederhana itu langsung di berikan sendiri dari sang Maha Pencipta, karena Allah tahu orang-orang itulah yang dapat melakukannya. Jadi selamat atas anugerah itu.