Kitab-kitab suci terdahulu, baik Perjanjian Lama atau Perjanjian Baru, berbicara secara jelas tentang Nabi Islam, dan mengenai hal ini Allah berfirman di dalam al-Qur’an,
‘(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang umi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang makruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Qur'an), mereka itulah orang-orang yang beruntung.’ (al-A'raf: 157)
Bukan hanya Kitab Suci, tetapi semua naskah kuno yang pernah digunakan dalam ritual peribadatan memberi kabar tentang kedatangan Nabi Islam.
Kitab Ulangan 18 ayat 17,18,dan 19 mengatakan: (17) Lalu berkatalah TUHAN kepadaku: Apa yang dikatakan mereka itu baik; (18) seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka, seperti engkau ini; Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya, dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya. (19) Orang yang tidak mendengarkan segala firman-Ku yang akan diucapkan nabi itu demi nama-Ku, dari padanya akan Kutuntut pertanggungjawaban. Nubuat ini begitu jelas berbicara tentang seorang nabi bahwa Allah akan memilih di antara saudara-saudara Israel (orang Arab) dan membuang pemikiran parsial apapun.
Ini adalah nubuat yang penting untuk orang-orang Yahudi yang masih menunggu pembuktiannya selama berabad-abad hingga kedatangan Nabi Mohummad. Beberapa dari mereka, menurut beberapa nubuat, mengetahui tempat dan waktu waktunya, sehingga mendorong mereka untuk pergi ke Madinah, dan Makkah, dan kota-kota di sekitarnya. Mereka selalu mengancam orang-orang Arab musyrik dengan berkata, ‘Ini adalah waktu dimana Allah akan mengirim seorang nabi yang akan kami ikuti, lalu akan memerangi dan melenyapkan kalian.’ Ketika Nabi Islam muncul, banyak orang yang beriman dan banyak pula yang tidak beriman. Di antara alasan etiologis yang mendorong mereka masuk Islam adalah banyaknya berita tentang nabi Islam di dalam berbagai kitab suci. Beberapa di antaranya telah dihapus, beberapa yang lain telah dipenggal, tetapi ada pula yang masih menjadi bukti yang kuat mengenai kenabian Muhammad saw.
Nubuat yang disebutkan di atas, walaupun cocok dengan nabi Islam, orang-orang Yahudi mengklaim bahwa nubuatan sesuai dengan Yosua. Orang-orang Kristen memiliki pendapat lain, karena mereka selalu dalam kebiasaan mengubah setiap nubuat dalam Perjanjian Lama agar sesuai dengan Yesus. Mereka memilintir kata-kata tertentu untuk memberikan arti lain yang bertentangan dengan semua fakta sejarah, bahkan memasukkan, menghapus dan menyisipkan kata-kata baru ke dalam nubuat ini agar sesuai dengan apa yang mereka klaim. Umat Islam alasan yang baik bahwa nubuat berbicara dengan jelas dan pasti mengenai nabi Muhammad saw.
Jadi kita sekarang menghadapi tiga pendapat yang berbeda: Siapa yang dimaksud nabi di sini? Apakah Yosua, Yesus atau Muhammad saw? Hanya satu seorang dari mereka yang benar. Kami akan menjawab pertanyaan ini dalam artikel berikut:
Apakah nubuatan ini merujuk kepada salah satu nabi Yahudi? Jawabannya jelas tidak tidak, karena:
(1) Nubuat tersebut mengatakan, ‘Allah akan mengangkat seorang nabi dari saudara-saudara mereka.’ Jadi, nubuat ini berbicara tentang seorang nabi yang bukan dari Israel.
(2) Jika nubuat dimaksud merujuk kepada salah satu nabi Yahudi, maka Musa pasti berkata, ‘Dari kalangan kalian sendiri,’ yaitu dua belas suku utama Yahudi yang ada di hadapan Musa.
(3) Epilog kitab Ulangan memberi kesaksian terhadap fakta bahwa bukan Yosua atau nabi Yahudi yang lain yang dimaksudkan di sini. Epilog tersebut mengatakan, ‘Seperti Musa yang dikenal TUHAN dengan berhadapan muka, tidak ada lagi nabi yang bangkit di antara orang Israel.’ (Ulangan 34: 10)
(4) Kitab Maleakhi, yang merupakan bagian terakhir dari Perjanjian Lama, mencatat nubuat yang difirmankan Tuhan, yang menunjukkan bahwa utusan yang dijanjikantu tidak datang pada masa tersebut, dan dengan demikian Yosua tidak mungkin seorang nabi: ‘Lihat, Aku menyuruh utusan-Ku, supaya ia mempersiapkan jalan di hadapan-Ku! Dengan mendadak Tuhan yang kamu cari itu akan masuk ke bait-Nya! Malaikat Perjanjian yang kamu kehendaki itu, sesungguhnya, Ia datang, firman TUHAN semesta alam.’ (Maleakhi 3: 1)
Komentar McKenzie mengenai Maleakhi: Buku ini oleh para kritikus ditengarai ada sesudah pembangunan ulang candi pada tahun 516 SM, selama periode Persia dan sebelum reformasi Nehemia dan Ezta, yaitu sebelum 432 SM. Rekaman nubuat tentang ‘utusan yang dijanjikan’ menunjukkan bahwa sampai 432 SM orang-orang Israel masih menunggunya dan ia belum datang.
Berbagai studi historis membuktikan fakta bahwa nubuat ini tidak terbukti baik sebelum atau setelah Yesus. Tidak ada nabi yang diklaim dari kalangan orang-orang Yahudi. Ayat ‘Seperti Musa yang dikenal TUHAN dengan berhadapan muka, tidak ada lagi nabi yang bangkit di antara orang Israel’ juga membuktikan fakta ini. Mungkin epilog tersebut ditulis oleh Ezra pada 800 hingga 900 tahun setelah Musa. Jadi nubuat tersebut tetap tak terpenuhi selama 8 sampai 9 abad setelah Musa.
Dimungkinkan bahwa ia mungkin ditulis oleh beberapa redaktur kitab lainnya bila Taurat dan beberapa naskah Alkitab lainnya pertama kali dikompilasi dalam bentuk tertulis sekitar lima ratus tahun setelah Musa. Itu berarti nubuat tetap tak terbukti untuk tidak kurang dari 500 tahun setelah Musa. Ini juga tidak berarti bahwa nubuat tersebut terbukti sesudahnya. Tidak ada yang pernah diklaim sebagai ‘utusan yang dijanjikan’, atau prasyaratnya terpenuhi pada waktu kapapun setelah Musa. Hampir setiap sarjana Injil memahami bahwa nubuat tersebut masih belum terbukti bahkan setelah masa Yesus. The Bible Knowledge Commentary melihat: Selama abad pertama masehi, pemimpin formal Yudaisme masih mencari pembuktian dari nubuat Musa tersebut (silakan merujuk Yohanes I: 21).
Yang tetap tak terbukti selama masa Isa dan orang-orang Yahudi adalah mereka masih menunggu kedatangan nabi ini, dan hal itu dapat dipastikan sumbernya dari Injil Yohanes berikut: (19) Dan inilah kesaksian Yohanes ketika orang Yahudi dari Yerusalem mengutus beberapa imam dan orang-orang Lewi kepadanya untuk menanyakan dia: ‘Siapakah engkau?’ (20) Ia mengaku dan tidak berdusta, katanya: 'Aku bukan Mesias.’ (21) Lalu mereka bertanya kepadanya: ‘Kalau begitu, siapakah engkau? Elia?’ Dan ia menjawab: ‘Bukan!’ ‘Engkaukah nabi yang akan datang?’ Dan ia menjawab: ‘Bukan!’ (22) Maka kata mereka kepadanya: ‘Siapakah engkau? Sebab kami harus memberi jawab kepada mereka yang mengutus kami. Apakah katamu tentang dirimu sendiri?’ (23) Jawabnya: ‘Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Luruskanlah jalan Tuhan! seperti yang telah dikatakan nabi Yesaya.’ (24) Dan di antara orang-orang yang diutus itu ada beberapa orang Farisi. (25) Mereka bertanya kepadanya, katanya: ‘Mengapakah engkau membaptis, jikalau engkau bukan Mesias, bukan Elia, dan bukan nabi yang akan datang?’ (Yohanes 1: 19-25)
Dari studi yang dilakukan di atas ini, jelas bahwa 'Nabi yang seperti Musa' belum dibangkitkan hingga masa Yesus Kristus.
Selasa, 28 Juli 2009
Selasa, 07 Juli 2009
Ruh Orang yang Meninggal Dunia
Allah swt. berfirman:
اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَى عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْأُخْرَى إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
Artinya : “Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; Maka dia tahanlah jiwa (orang) yang telah dia tetapkan kematiannya dan dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda- tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir.” (QS. Az Zumar : 42)
Ibnu Qoyyim menyebutkan riwaayat dari Ibnu Abbas tentang ayat ini, dia,”Telah sampai kepadaku bahwa roh orang-orang yang masih hidup dan roh orang-orang yang sudah mati bisa bertemu didalam mimpi. Mereka saling bertanya lalu Allah swt menahan roh orang-orang yang sudah mati dan melepaskan roh orang-orang yang masih hidup menemui jasadnya.”
Ibnu Abi Hatim didalam tafsirnya menyebutkan riwayat dari as Suddiy tentang makna firman Allah swt “dan jiwa yang belum mati di waktu tidurnya” adalah mematikannya saat tidurnya lalu roh orang yang masih hidup bertemu dengan roh orang yang sudah mati dan mereka saling berbincang, berkenalan. Dia mengatakan,”lalu roh orang yang masih hidup dikembalikan kepada jasadnya di dunia hingga sisa waktu yang telah ditentukan sementara itu roh orang yang sudah mati menginginkan kembali ke jasadnya namun dia tertahan.”
Bukti pertemuan antara roh orang-orang yang masih hidup dengan roh orang-orang yang sudah mati adalah bahwa orang yang masih hidup dapat melihat orang yang sudah mati didalam tidurnya. Orang yang masih hidup itu meminta informasi darinya lalu orang yang sudah mati itu memberitahukan kepadanya tentang apa-apa yang tidak diketahui oleh orang yang masih hidup sehingga menjadi sebuah informasi seperti tentang masa lalu dan yang akan datang. Terkadang dia memberitahukan kepadanya tentang harta yang dikuburnya di suatu tempat mati yang tidak diketahui kecuali oleh dirinya atau barangkali dia memberitahu kepadanya tentang utangnya dan menyebutkan bukti-buktinya.
Yang lebih jelas lagi misalnya berupa pemberitahuan tentang amal yang telah dikerjakannya yang tidak dilihat oleh seorang pun di alam atau pemberitahuan bahwa anda akan mendatangi kami pada waktu ini dan itu dan akan terjadi seperti apa yang diberitahukannya atau pemberitahuan tentang perkara-perkara yang tidak diketahui kecuali dirinya (orang yang sudah meninggal)
Said bin al Musayyib mengatakan bahwa Abdullah bin Salam telah bertemu dengan Salman al Farisiy. Salah seorang dari mereka berdua mengatakan kepada yang lainnya,”Jika kamu meninggal sebelumku maka temuilah aku dan beritahukan kepadaku tentang apa yang kamu dapati dari Tuhanmu dan jika aku meninggal sebelum dirimu maka aku akan menemuimu dan memberitahukanmu (tentangnya).” Sementara itu yang lainnya mengatakan,”Apakah orang-orang yang sudah mati dapat bertemu dengan orang-orang yang masih hidup?” dia berkata,”Ya. Roh-roh mereka di surga bepergian sekehendaknya.”
Al Abbas bin Abdul Muthalib mengatakan,”Aku sangat ingin bermimpi bertemu Umar didalam tidurku dan aku tidak pernah dimimpikannya hingga mendekati waktu setahun aku melihatnya mengusap keringat dari dahinya dan mengatakan,’Ini adalah masa senggangku, hampir-hampir singgasanaku roboh jika aku tidak bertemu Yang Maha Pengasih dan Penyayang.”
Abdullah bin Umar bin Abdul Aziz mengatakan,”Aku telah melihat ayahku didalam tidur setelah kematiannya seakan-akan dia berada di sebuah taman dan memberikan apel-apel kepadaku maka aku pun mengambil salah satunya! Aku bertanya,”Amal apa yang engkau dapati paling utama?’ ayahku menjawab,”Istighfar.” (ar Ruh hal 20 – 22)
Adapun tentang roh dari orang-orang yang sudah mati memasuki jasad dari orang yang masih hidup lalu melakukan kegiatan sebagaimana layaknya orang yang masih hidup seperti berbincang-bincang, bercerita dan sebagainya maka hal ini tidaklah ada kaitannya dengan roh dari orang-orang yang sudah mati itu. Akan tetapi itu semua adalah tipu daya yang dilakukan oleh jin yang memasuki jasad orang yang masih hidup tersebut.
Jin itu merasuki tubuh seseorang dan berpura-pura seolah-olah dirinya adalah ayah dari yang pemilik tubuh yang dirasuki, ibunya, seorang ulama atau seorang shaleh yang sudah meninggal dan berbicara untuk menyesatkan manusia.
Wallahu A’lam
اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَى عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْأُخْرَى إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
Artinya : “Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; Maka dia tahanlah jiwa (orang) yang telah dia tetapkan kematiannya dan dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda- tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir.” (QS. Az Zumar : 42)
Ibnu Qoyyim menyebutkan riwaayat dari Ibnu Abbas tentang ayat ini, dia,”Telah sampai kepadaku bahwa roh orang-orang yang masih hidup dan roh orang-orang yang sudah mati bisa bertemu didalam mimpi. Mereka saling bertanya lalu Allah swt menahan roh orang-orang yang sudah mati dan melepaskan roh orang-orang yang masih hidup menemui jasadnya.”
Ibnu Abi Hatim didalam tafsirnya menyebutkan riwayat dari as Suddiy tentang makna firman Allah swt “dan jiwa yang belum mati di waktu tidurnya” adalah mematikannya saat tidurnya lalu roh orang yang masih hidup bertemu dengan roh orang yang sudah mati dan mereka saling berbincang, berkenalan. Dia mengatakan,”lalu roh orang yang masih hidup dikembalikan kepada jasadnya di dunia hingga sisa waktu yang telah ditentukan sementara itu roh orang yang sudah mati menginginkan kembali ke jasadnya namun dia tertahan.”
Bukti pertemuan antara roh orang-orang yang masih hidup dengan roh orang-orang yang sudah mati adalah bahwa orang yang masih hidup dapat melihat orang yang sudah mati didalam tidurnya. Orang yang masih hidup itu meminta informasi darinya lalu orang yang sudah mati itu memberitahukan kepadanya tentang apa-apa yang tidak diketahui oleh orang yang masih hidup sehingga menjadi sebuah informasi seperti tentang masa lalu dan yang akan datang. Terkadang dia memberitahukan kepadanya tentang harta yang dikuburnya di suatu tempat mati yang tidak diketahui kecuali oleh dirinya atau barangkali dia memberitahu kepadanya tentang utangnya dan menyebutkan bukti-buktinya.
Yang lebih jelas lagi misalnya berupa pemberitahuan tentang amal yang telah dikerjakannya yang tidak dilihat oleh seorang pun di alam atau pemberitahuan bahwa anda akan mendatangi kami pada waktu ini dan itu dan akan terjadi seperti apa yang diberitahukannya atau pemberitahuan tentang perkara-perkara yang tidak diketahui kecuali dirinya (orang yang sudah meninggal)
Said bin al Musayyib mengatakan bahwa Abdullah bin Salam telah bertemu dengan Salman al Farisiy. Salah seorang dari mereka berdua mengatakan kepada yang lainnya,”Jika kamu meninggal sebelumku maka temuilah aku dan beritahukan kepadaku tentang apa yang kamu dapati dari Tuhanmu dan jika aku meninggal sebelum dirimu maka aku akan menemuimu dan memberitahukanmu (tentangnya).” Sementara itu yang lainnya mengatakan,”Apakah orang-orang yang sudah mati dapat bertemu dengan orang-orang yang masih hidup?” dia berkata,”Ya. Roh-roh mereka di surga bepergian sekehendaknya.”
Al Abbas bin Abdul Muthalib mengatakan,”Aku sangat ingin bermimpi bertemu Umar didalam tidurku dan aku tidak pernah dimimpikannya hingga mendekati waktu setahun aku melihatnya mengusap keringat dari dahinya dan mengatakan,’Ini adalah masa senggangku, hampir-hampir singgasanaku roboh jika aku tidak bertemu Yang Maha Pengasih dan Penyayang.”
Abdullah bin Umar bin Abdul Aziz mengatakan,”Aku telah melihat ayahku didalam tidur setelah kematiannya seakan-akan dia berada di sebuah taman dan memberikan apel-apel kepadaku maka aku pun mengambil salah satunya! Aku bertanya,”Amal apa yang engkau dapati paling utama?’ ayahku menjawab,”Istighfar.” (ar Ruh hal 20 – 22)
Adapun tentang roh dari orang-orang yang sudah mati memasuki jasad dari orang yang masih hidup lalu melakukan kegiatan sebagaimana layaknya orang yang masih hidup seperti berbincang-bincang, bercerita dan sebagainya maka hal ini tidaklah ada kaitannya dengan roh dari orang-orang yang sudah mati itu. Akan tetapi itu semua adalah tipu daya yang dilakukan oleh jin yang memasuki jasad orang yang masih hidup tersebut.
Jin itu merasuki tubuh seseorang dan berpura-pura seolah-olah dirinya adalah ayah dari yang pemilik tubuh yang dirasuki, ibunya, seorang ulama atau seorang shaleh yang sudah meninggal dan berbicara untuk menyesatkan manusia.
Wallahu A’lam
Senin, 18 Mei 2009
Fase Kematian
2. Fase Kematian
Setelah kita menerima voucher bertuliskan“Sakratulmaut” yang dibawa langsung oleh petugas khusus dari kalangan malaikat bernama ‘Izrail, (Malakul Maut) berarti kita sedang berada pada batas terakhir dari perjalanan kita di dunia dan di batas awal memasuki penginapan baru yang bernama Barzakh. Seperti yang sudah dijelaskan, untuk memasuki penginapan yang baru tersebut terlbih dulu kita harus membuka pintu masuknya. Nah, pintu masuknya itu bernama “Kematian”. Ya, Kematian… Itulah fase yang harus kita lewati setelah melewati fase Sakratulmaut. Dengan kematian itu kita berhak mendapatkan tempat di Alam Barzakh.
Kematian adalah sesuatu yang ditakuti banyak orang. Kendati pada kenyataanya, tidak ada seorangpun yang dapat menghindari atau lari dari kematian itu. Siapapun dia, Presidenkah, Rajakah dia, Konglomerat kah dia, Jendral berbintang lima kah dia, di mana dan kapanpun mereka berada. Mereka pasti mati. Selama mereka memiliki nyawa, pasti akan mengalami kematian. Hal ini telah menjadi ketentuan dan kehendak Tuhan Pencipta sebagaimana di jelaskan-Nya dalam surat Ali Imaran (3), ayat 185 dan Srat An-Nisa’ (4) ayat 78 berikut ini :
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ.....(185)
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati…” (Q.S. Ali Imran (3) : 185)
أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكُكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ (78) (سورة النساء)
Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendati pun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh…. (Q.S. An-Nisa’ (4) : 78)
Kematian sudah ditentukan bagi setiap yang bernyawa. Kematian tidak perlu dicari, karena ia yang mencari setiap yang bernyawa. Kematian tidak bisa diwakilkan, dipindahkan atau take over oleh yang tidak berhak, karena petugas kematian, yakni Malakul Maut yang diberikan tugas khusus mengurusianya belum pernah menerima sogokan dan tidak akan pernah. Karena semua Malaikat melakukan semua apa yang diperintahkan Allah kepada mereka, tanpa sedikitpun disimpangkan apalagi dimanipulasi, seperti yang Allah jelaskan :
قُلْ يَتَوَفَّاكُمْ مَلَكُ الْمَوْتِ الَّذِي وُكِّلَ بِكُمْ ثُمَّ إِلَى رَبِّكُمْ تُرْجَعُونَ (11) “Katakanlah: "Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa) mu akan mematikan kamu; kemudian hanya kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan.” (Q.S.As-Sajdah (32) :11)
Demikian juga, bahwa kematian akan datang pada saatnya atau ketika ajal (batas)nya habis. Kematian tidak bisa diundurkan kendati barang sedetik. Tidak sedikit orang yang mencoba untuk mengundurkan kematian, tapi usahanya gagal dan sia sia belaka. Karena kematian adalah pintu masuk tempat tinggal sementara ketiga kita, yakni Alam Barzakh. Maka, kitapun harus memasukinya, karena jatah menginap di penginapan di dunia sudah habis serta tempat kita di dunia sudah dibooking Malaikat untuk penghuni lain selain kita. Allah telah mengingatkan kita tentang hal ini dan apa yang harus kita lakukan sebelum kematian (maut) itu menjemput kita, seperti tercantum dalam firman-Nya berikut ini :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلا أَوْلادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ (9) وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ (10) وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ (11)“Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.(9) Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: "Ya Tuhan Penciptaku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian) ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang shaleh?" (10) Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (11)” (Q.S. Al-Munfiqun (63) : 9 – 11)
Pembacya yang terhormat, Voucher “Sakratulmaut” sudah diberikan dan pintu Alam Barzakh yang bernama Kematian suda dibukakan. Artinya, Sakratulmaut adalah sautu kenyataan yang harus kita lewati. Keberadaannya adalah sebuah kebenaran. Maka yang menjadi perhatian kita sesungguhnya bukanlah Kematian itu. Karena Kematian itu adalah kehendak Tuhan Pencipta dan Pemilik jagad raya ini. Tidak ada pilihan lain bagi kita dan mustahil kita menghindarinya. Suka atau tidak suka, kita pasti melewatinya pada waktu yang sudah ditetapkan-Nya. Di samping itu, Kematian adalah yang mengakhiri dan menutup semua pintu kenikmatan, ikhtiyar, pilihan, aktivitas dan bahkan berdoapun kita sudah tidak diperkenankan. Kita hanya akan menikmati hasil karya, ikhtiyar, pilihan dan doa yang telah kita lakukan semasa kita tinggal di dunia, tempat penginapan kita yang kedua. Itupun dihitung setelah kita dewasa dan murni atas pilihan kita sendiri, bukan karena intimidasi, lupa atau ketiduran. Subhanallah!!! Alangkah besarnya karunia dan kasih sayang Allah pada kita semasa kita di dunia. Dan karunia yang sudah disiapkan-Nya untuk kita di Alam Barzakh dan Akhirat sungguh jauh lebih besar dan lebih baik lagi.
Nah, sebelum Anda dijemput Kematian (Maut) yang waktunya Allah rahasiakan… Ia bisa datang saat ini, satu detik setelah ini, satu menit setelah ini, satu jam setelah ini, satu hari setelah ini, satu pekan setelah ini, satu bulan setelah ini, atau satu tahun setelah ini dan seterusnya….Sebelum Kematian menjemput Anda, cobalah gunakan kecerdasan Spiritual, Emotinal dan Intellectual yang Allah berikan kepada Anda untuk menangkap rahasia di balik Kematian itu. Lalu, tanya diri Anda dengan jujur seputar pertanyaan-pertanyaan berikut :
1. Siapa yang menghadirkan saya ke dunia ini? 2. Apakah saya sudah mengenal Tuhan Pencipta saya dengan baik?3. Apakah saya sudah mengenal Kitab Petunjuk Hidup yang diturunkan-Nya untuk saya?4. Apakah saya sudah mengenal seorang manusia bernama Muhammad Bin Abdullah yang diutus-Nya untuk menjelaskan isi Kitab Petunjuk Hidup tersebut?5. Apakah saya akan hidup di dunia ini selama-lamanya?6. Tidak cukupkah kematian manusia yang saya lihat setiap hari di atas muka bumi ini dengan berbagai sebab, seperti gempa bumi, tsunami, angin topan, banjir bandang, perang, sakit jantung, darah tinggi dan bahkan ada yang tidak sakit sama sekali, menjadi pelajaran berharga bagi diri saya dan saya juga pasti akan mengalaminya? Masalahnya hanya tinggal waktu?7. Bagaimana pandangan saya terhadap kehidupan dunia ini?8. Bekal apa yang sudah saya siapkan untuk menghadapi kehidupan setelah kematian?9. Apakah saya sudah mengevaluasi hidup saya melalui 50 pertanyaan yang terdapat pada poin Evaluasi Fase Setelah Lahir Ke Dunia dalam buku ini?10. Sudahkah saya memiliki 10 Katrakter Mulia (10 Noble Characters) seperti yang dijelaskan pada Bagian II dari buku ini?
Tiga Kunci Utama Keberhasilan Misi Ibadah dan Visi Khilafah
Sebelum meneruskan perjalanan wisata kita menuju dan memasuki penginapan kita yang ketiga, yakni Alam Barzakh, di mana di sana kita akan mulai menikmati hasil pilihan, ikhtiyar, karya dan doa kita semasa kita berada dalam kehidupan dunia dan di atas bumi, mari kita ingat bahwa Misi Ibadah dan Visi Khilafah yang diamanahkan Tuhan Pencipta kepada kita semasa hidup di dunia, sangat memerlukan perhatian penuh dan konsentrasi tinggi untuk berhasil melaksanakannya.
Untuk itu, ada tiga kunci utama yang menjadi faktor keberhasilan Misi Ibadah dan Visi Khilafah semasa kita hidup di dunia :
1. Keimanan /Keyakinan Pada Allah Yang Mendalam, mencakup :Iman kepada Allah sebagai Tuhan Pencipta, Tuhan yang pantas disembah, ditaati, diakagumi, diagungkan dan Tuhan yang memiliki 99 nama dan sifat-sifat mulia.Iman kepada 10 Malaikat Allah yang bertugas menjalankan berbagai sistem dan perintah Allah, di antaranya Jibril bertugas menurunkan wahyu dan Izrail bertugas mencabut nyawa manusia.Iman kepada 4 Kitab Petunjuk Hidup yang Allah turunkan, yakni Taurat untuk Nabi Musa dan umatnya, Zabur untuk Nabi Daud dan umatnya, Injil untuk Nabi Isa dan umatnya, terakhir Al-Qur’an untuk Nabi Muhammad dan seluruh umat manusia sampai akhir zaman.Iman kepada 25 Nabi dan Rasul dimulai dari Nabi Adam dan ditutup dengan Nabi Muhammad Saw.Iman kepada Akhirat yang akan menjadi negeri terakhir semua manusia yang hanya terdiri dari Syurga dan Neraka.Iman kepada Qadar (Ketentuan) baik dan Qadar bruk dari Tuhan Pencipta
2. Amal Shaleh Yang Berdasarkan Ilmu, mencakup :2.1. Ibadah yang bersifat individu (fardhu ‘ain) sebagaimana yang terhimpun dalam Rukun Islam yang lima.
2.2. Ibadah yang bersifat sosial, ekonomi dan kemasyarakatan (fardhu kifayah), seperti : i. Menyelesaikan masalah penyakit amoral masyarakat di antaranya dengan mewujudakan media massa yang bersih, berkualitas dan bertanggung jawab sampai ke Akhirat. ii. Menyelesaikan masalah kemiskinan dengan meningkatkan profesionalitas dan efisiensi lembaga-lembaga pemerintahan termasuk BUMN, pemberdayaan ekonomi rakyat sehingga terjadi pemerataan dan peningkatan daya beli dan daya saing, sinergi dan partnership antara pemerintah dengan swasta dalam mengembangkan dan membangun ekonomi yang berkeadilan. iii. Mengatasi kebodohan, terutama kebodohan terhadap Tuhan Pencipta, terhadap potensi sumber kehidupan yang ada di bumi dan langit, kebbodohan terhadap Kitab Petunjuk Hidup dan Rasul-Nya, dengan merumuskan konsep pendidikan yang berkualitas, mencetak tenaga pendidik dan manajemen pendidikan yang profesional dengan dukungan pendanaan yang maksimal dari segenap masyarakat.
2.3. Ibadah yang terkait dengan persoalan politik, seperti ketidakadilan dan diskriminasi ekonomi, sosial dan politik dengan membenahi undang-undang dan aturan pemerintahan yang tidak benar dan tidak memiliki nilai kebenaran dan spirit keadilan, mengikis praktek kezaliman, baik terhadap individu, kelompok atau terhadap penganut agama apapun.
2.4. Ibadah yang terkait dengan kepemimpinan, pertahanan dan keamanan negara yang mencakup :i. Urusan dalam negeri, di antaranya :i.i. Mewujudkan pemimpin-pemimipin dan para penyelengrara negara dan pemerintahan (legislatif dan eksekutif) yang berkualitas tinggi yang memiliki 10 Karakter Mulia.i.ii. Mewujudkan para penegak hukum (kepolisian, kejaksaan dan kehakiman) yang profesional dan bersih yang memiliki 10 Karakter Mulia.ii.Urusan pertahahan dan luar negeri :ii.i. Mewujudkan ‘askariyyah’ (militer) yang tangguh dan kuat spritual (Iman), mental, akhlak, fisik serta menguasai persenjataan moderen, tanpa harus terikat dan tunduk pada ketentuan negara manapun.ii.ii. Membangun dan mengembangkan industri militer strategis termasuk industri senjata nuklir, bekerjasama dengan negara-negara netral seperti Cina dan Korea.ii.iii. Proaktif dan berani terlibat langsung menciptakan perdamaian dunia, khsusnya terkait dengan agresi Yahudi terhadap Palestina dan Amerika terhadap Afghanistan, Irak dan sebagainya.
3. Kemampuan Berkomunikasi Yang Efektif, dengan syarat :Komunikasi bertujuan mencari dan menegakkan kebenaran.
Komunikasi dibangun dengan dua arah, seperti antara presiden dengan rakyat, para pemimpin dengan bawahan atau anggota, antara istri dengan suami, antara orang tua dengan anak, antara guru dengan murid, antara komandan dengan prajurit, antara direksi dengan karyawan dan antara pemimpin umat dengan anggota jama’ahnya. Komunikasi dua arah ini penting agar terbangun kesetaraan di antara manusia dan supaya terhindar dari parktek diktatorship dan militeristik yang bertentangan dengan Misi Ibadah dan Visi Khilafah itu sendiri.
Komunikasi harus dijalankan dengan kontinu dan tidak boleh berhenti. Untuk itu diperlukan sifat kesabaran yang luar biasa dan sarana komunikasi yang efektif seperti media massa, debat terbuka, konsultasi, forum dari hati ke hati, dan seterusnya.
Tiga hal tersebut di atas merupakan kunci utama kesuksesan Anda menjalankan Misi Ibdah dan Visi Khilafah di atas bumi. Kebetrhaslilan itulah bekal terbaik Anda dalam meneruskan wisata abadi pada fase Alam Barzakh dan dua periode berikutnya, Periode Kehidupan Kedua dan Periode Kembali Kepada Tuhan Pencipta. Jika Anda berhasil meraih bekal tersebut, insya Allah Anda akan aman sepanjang dalam perjalanan yang amat panjang itu. Bahkan Anda sudah mulai menikmati hasilnya sejak fase pertama dari Kematian Kedua, yakni Fase Sakratulaut. Jika Anda gagal meraih bekal tersebut, dipastikan Anda akan gagal pula dalam menelusuri perjalanan berikutnya. Azab Allah sudah siap menyambut kedatangan orang-orang yang gagal, sejak fase Sakratulmaut dan seterusnya. Semoga Allah melindungi kita dari kegagalan tersebut. Inilah inti sari dari firman Allah yang tercantum dalam surat Al-‘Ashr berikut ini :
وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3)Demi masa (1) Sesungguhnya manusia itu pasti dalam kerugian (2) Kkecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran (3)
Setelah kita menerima voucher bertuliskan“Sakratulmaut” yang dibawa langsung oleh petugas khusus dari kalangan malaikat bernama ‘Izrail, (Malakul Maut) berarti kita sedang berada pada batas terakhir dari perjalanan kita di dunia dan di batas awal memasuki penginapan baru yang bernama Barzakh. Seperti yang sudah dijelaskan, untuk memasuki penginapan yang baru tersebut terlbih dulu kita harus membuka pintu masuknya. Nah, pintu masuknya itu bernama “Kematian”. Ya, Kematian… Itulah fase yang harus kita lewati setelah melewati fase Sakratulmaut. Dengan kematian itu kita berhak mendapatkan tempat di Alam Barzakh.
Kematian adalah sesuatu yang ditakuti banyak orang. Kendati pada kenyataanya, tidak ada seorangpun yang dapat menghindari atau lari dari kematian itu. Siapapun dia, Presidenkah, Rajakah dia, Konglomerat kah dia, Jendral berbintang lima kah dia, di mana dan kapanpun mereka berada. Mereka pasti mati. Selama mereka memiliki nyawa, pasti akan mengalami kematian. Hal ini telah menjadi ketentuan dan kehendak Tuhan Pencipta sebagaimana di jelaskan-Nya dalam surat Ali Imaran (3), ayat 185 dan Srat An-Nisa’ (4) ayat 78 berikut ini :
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ.....(185)
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati…” (Q.S. Ali Imran (3) : 185)
أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكُكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ (78) (سورة النساء)
Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendati pun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh…. (Q.S. An-Nisa’ (4) : 78)
Kematian sudah ditentukan bagi setiap yang bernyawa. Kematian tidak perlu dicari, karena ia yang mencari setiap yang bernyawa. Kematian tidak bisa diwakilkan, dipindahkan atau take over oleh yang tidak berhak, karena petugas kematian, yakni Malakul Maut yang diberikan tugas khusus mengurusianya belum pernah menerima sogokan dan tidak akan pernah. Karena semua Malaikat melakukan semua apa yang diperintahkan Allah kepada mereka, tanpa sedikitpun disimpangkan apalagi dimanipulasi, seperti yang Allah jelaskan :
قُلْ يَتَوَفَّاكُمْ مَلَكُ الْمَوْتِ الَّذِي وُكِّلَ بِكُمْ ثُمَّ إِلَى رَبِّكُمْ تُرْجَعُونَ (11) “Katakanlah: "Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa) mu akan mematikan kamu; kemudian hanya kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan.” (Q.S.As-Sajdah (32) :11)
Demikian juga, bahwa kematian akan datang pada saatnya atau ketika ajal (batas)nya habis. Kematian tidak bisa diundurkan kendati barang sedetik. Tidak sedikit orang yang mencoba untuk mengundurkan kematian, tapi usahanya gagal dan sia sia belaka. Karena kematian adalah pintu masuk tempat tinggal sementara ketiga kita, yakni Alam Barzakh. Maka, kitapun harus memasukinya, karena jatah menginap di penginapan di dunia sudah habis serta tempat kita di dunia sudah dibooking Malaikat untuk penghuni lain selain kita. Allah telah mengingatkan kita tentang hal ini dan apa yang harus kita lakukan sebelum kematian (maut) itu menjemput kita, seperti tercantum dalam firman-Nya berikut ini :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلا أَوْلادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ (9) وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ (10) وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ (11)“Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.(9) Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: "Ya Tuhan Penciptaku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian) ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang shaleh?" (10) Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (11)” (Q.S. Al-Munfiqun (63) : 9 – 11)
Pembacya yang terhormat, Voucher “Sakratulmaut” sudah diberikan dan pintu Alam Barzakh yang bernama Kematian suda dibukakan. Artinya, Sakratulmaut adalah sautu kenyataan yang harus kita lewati. Keberadaannya adalah sebuah kebenaran. Maka yang menjadi perhatian kita sesungguhnya bukanlah Kematian itu. Karena Kematian itu adalah kehendak Tuhan Pencipta dan Pemilik jagad raya ini. Tidak ada pilihan lain bagi kita dan mustahil kita menghindarinya. Suka atau tidak suka, kita pasti melewatinya pada waktu yang sudah ditetapkan-Nya. Di samping itu, Kematian adalah yang mengakhiri dan menutup semua pintu kenikmatan, ikhtiyar, pilihan, aktivitas dan bahkan berdoapun kita sudah tidak diperkenankan. Kita hanya akan menikmati hasil karya, ikhtiyar, pilihan dan doa yang telah kita lakukan semasa kita tinggal di dunia, tempat penginapan kita yang kedua. Itupun dihitung setelah kita dewasa dan murni atas pilihan kita sendiri, bukan karena intimidasi, lupa atau ketiduran. Subhanallah!!! Alangkah besarnya karunia dan kasih sayang Allah pada kita semasa kita di dunia. Dan karunia yang sudah disiapkan-Nya untuk kita di Alam Barzakh dan Akhirat sungguh jauh lebih besar dan lebih baik lagi.
Nah, sebelum Anda dijemput Kematian (Maut) yang waktunya Allah rahasiakan… Ia bisa datang saat ini, satu detik setelah ini, satu menit setelah ini, satu jam setelah ini, satu hari setelah ini, satu pekan setelah ini, satu bulan setelah ini, atau satu tahun setelah ini dan seterusnya….Sebelum Kematian menjemput Anda, cobalah gunakan kecerdasan Spiritual, Emotinal dan Intellectual yang Allah berikan kepada Anda untuk menangkap rahasia di balik Kematian itu. Lalu, tanya diri Anda dengan jujur seputar pertanyaan-pertanyaan berikut :
1. Siapa yang menghadirkan saya ke dunia ini? 2. Apakah saya sudah mengenal Tuhan Pencipta saya dengan baik?3. Apakah saya sudah mengenal Kitab Petunjuk Hidup yang diturunkan-Nya untuk saya?4. Apakah saya sudah mengenal seorang manusia bernama Muhammad Bin Abdullah yang diutus-Nya untuk menjelaskan isi Kitab Petunjuk Hidup tersebut?5. Apakah saya akan hidup di dunia ini selama-lamanya?6. Tidak cukupkah kematian manusia yang saya lihat setiap hari di atas muka bumi ini dengan berbagai sebab, seperti gempa bumi, tsunami, angin topan, banjir bandang, perang, sakit jantung, darah tinggi dan bahkan ada yang tidak sakit sama sekali, menjadi pelajaran berharga bagi diri saya dan saya juga pasti akan mengalaminya? Masalahnya hanya tinggal waktu?7. Bagaimana pandangan saya terhadap kehidupan dunia ini?8. Bekal apa yang sudah saya siapkan untuk menghadapi kehidupan setelah kematian?9. Apakah saya sudah mengevaluasi hidup saya melalui 50 pertanyaan yang terdapat pada poin Evaluasi Fase Setelah Lahir Ke Dunia dalam buku ini?10. Sudahkah saya memiliki 10 Katrakter Mulia (10 Noble Characters) seperti yang dijelaskan pada Bagian II dari buku ini?
Tiga Kunci Utama Keberhasilan Misi Ibadah dan Visi Khilafah
Sebelum meneruskan perjalanan wisata kita menuju dan memasuki penginapan kita yang ketiga, yakni Alam Barzakh, di mana di sana kita akan mulai menikmati hasil pilihan, ikhtiyar, karya dan doa kita semasa kita berada dalam kehidupan dunia dan di atas bumi, mari kita ingat bahwa Misi Ibadah dan Visi Khilafah yang diamanahkan Tuhan Pencipta kepada kita semasa hidup di dunia, sangat memerlukan perhatian penuh dan konsentrasi tinggi untuk berhasil melaksanakannya.
Untuk itu, ada tiga kunci utama yang menjadi faktor keberhasilan Misi Ibadah dan Visi Khilafah semasa kita hidup di dunia :
1. Keimanan /Keyakinan Pada Allah Yang Mendalam, mencakup :Iman kepada Allah sebagai Tuhan Pencipta, Tuhan yang pantas disembah, ditaati, diakagumi, diagungkan dan Tuhan yang memiliki 99 nama dan sifat-sifat mulia.Iman kepada 10 Malaikat Allah yang bertugas menjalankan berbagai sistem dan perintah Allah, di antaranya Jibril bertugas menurunkan wahyu dan Izrail bertugas mencabut nyawa manusia.Iman kepada 4 Kitab Petunjuk Hidup yang Allah turunkan, yakni Taurat untuk Nabi Musa dan umatnya, Zabur untuk Nabi Daud dan umatnya, Injil untuk Nabi Isa dan umatnya, terakhir Al-Qur’an untuk Nabi Muhammad dan seluruh umat manusia sampai akhir zaman.Iman kepada 25 Nabi dan Rasul dimulai dari Nabi Adam dan ditutup dengan Nabi Muhammad Saw.Iman kepada Akhirat yang akan menjadi negeri terakhir semua manusia yang hanya terdiri dari Syurga dan Neraka.Iman kepada Qadar (Ketentuan) baik dan Qadar bruk dari Tuhan Pencipta
2. Amal Shaleh Yang Berdasarkan Ilmu, mencakup :2.1. Ibadah yang bersifat individu (fardhu ‘ain) sebagaimana yang terhimpun dalam Rukun Islam yang lima.
2.2. Ibadah yang bersifat sosial, ekonomi dan kemasyarakatan (fardhu kifayah), seperti : i. Menyelesaikan masalah penyakit amoral masyarakat di antaranya dengan mewujudakan media massa yang bersih, berkualitas dan bertanggung jawab sampai ke Akhirat. ii. Menyelesaikan masalah kemiskinan dengan meningkatkan profesionalitas dan efisiensi lembaga-lembaga pemerintahan termasuk BUMN, pemberdayaan ekonomi rakyat sehingga terjadi pemerataan dan peningkatan daya beli dan daya saing, sinergi dan partnership antara pemerintah dengan swasta dalam mengembangkan dan membangun ekonomi yang berkeadilan. iii. Mengatasi kebodohan, terutama kebodohan terhadap Tuhan Pencipta, terhadap potensi sumber kehidupan yang ada di bumi dan langit, kebbodohan terhadap Kitab Petunjuk Hidup dan Rasul-Nya, dengan merumuskan konsep pendidikan yang berkualitas, mencetak tenaga pendidik dan manajemen pendidikan yang profesional dengan dukungan pendanaan yang maksimal dari segenap masyarakat.
2.3. Ibadah yang terkait dengan persoalan politik, seperti ketidakadilan dan diskriminasi ekonomi, sosial dan politik dengan membenahi undang-undang dan aturan pemerintahan yang tidak benar dan tidak memiliki nilai kebenaran dan spirit keadilan, mengikis praktek kezaliman, baik terhadap individu, kelompok atau terhadap penganut agama apapun.
2.4. Ibadah yang terkait dengan kepemimpinan, pertahanan dan keamanan negara yang mencakup :i. Urusan dalam negeri, di antaranya :i.i. Mewujudkan pemimpin-pemimipin dan para penyelengrara negara dan pemerintahan (legislatif dan eksekutif) yang berkualitas tinggi yang memiliki 10 Karakter Mulia.i.ii. Mewujudkan para penegak hukum (kepolisian, kejaksaan dan kehakiman) yang profesional dan bersih yang memiliki 10 Karakter Mulia.ii.Urusan pertahahan dan luar negeri :ii.i. Mewujudkan ‘askariyyah’ (militer) yang tangguh dan kuat spritual (Iman), mental, akhlak, fisik serta menguasai persenjataan moderen, tanpa harus terikat dan tunduk pada ketentuan negara manapun.ii.ii. Membangun dan mengembangkan industri militer strategis termasuk industri senjata nuklir, bekerjasama dengan negara-negara netral seperti Cina dan Korea.ii.iii. Proaktif dan berani terlibat langsung menciptakan perdamaian dunia, khsusnya terkait dengan agresi Yahudi terhadap Palestina dan Amerika terhadap Afghanistan, Irak dan sebagainya.
3. Kemampuan Berkomunikasi Yang Efektif, dengan syarat :Komunikasi bertujuan mencari dan menegakkan kebenaran.
Komunikasi dibangun dengan dua arah, seperti antara presiden dengan rakyat, para pemimpin dengan bawahan atau anggota, antara istri dengan suami, antara orang tua dengan anak, antara guru dengan murid, antara komandan dengan prajurit, antara direksi dengan karyawan dan antara pemimpin umat dengan anggota jama’ahnya. Komunikasi dua arah ini penting agar terbangun kesetaraan di antara manusia dan supaya terhindar dari parktek diktatorship dan militeristik yang bertentangan dengan Misi Ibadah dan Visi Khilafah itu sendiri.
Komunikasi harus dijalankan dengan kontinu dan tidak boleh berhenti. Untuk itu diperlukan sifat kesabaran yang luar biasa dan sarana komunikasi yang efektif seperti media massa, debat terbuka, konsultasi, forum dari hati ke hati, dan seterusnya.
Tiga hal tersebut di atas merupakan kunci utama kesuksesan Anda menjalankan Misi Ibdah dan Visi Khilafah di atas bumi. Kebetrhaslilan itulah bekal terbaik Anda dalam meneruskan wisata abadi pada fase Alam Barzakh dan dua periode berikutnya, Periode Kehidupan Kedua dan Periode Kembali Kepada Tuhan Pencipta. Jika Anda berhasil meraih bekal tersebut, insya Allah Anda akan aman sepanjang dalam perjalanan yang amat panjang itu. Bahkan Anda sudah mulai menikmati hasilnya sejak fase pertama dari Kematian Kedua, yakni Fase Sakratulaut. Jika Anda gagal meraih bekal tersebut, dipastikan Anda akan gagal pula dalam menelusuri perjalanan berikutnya. Azab Allah sudah siap menyambut kedatangan orang-orang yang gagal, sejak fase Sakratulmaut dan seterusnya. Semoga Allah melindungi kita dari kegagalan tersebut. Inilah inti sari dari firman Allah yang tercantum dalam surat Al-‘Ashr berikut ini :
وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3)Demi masa (1) Sesungguhnya manusia itu pasti dalam kerugian (2) Kkecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran (3)
Langganan:
Postingan (Atom)