Selasa, 01 Juli 2008

Ayat-Ayat Hitam Talmud (Kitab Bangsa Yahudi)

Talmud merupakan kitab suci kelompok Zionis-Yahudi di seluruh dunia. Seluruh tindak-tanduk Zionis-Israel mengacu pada ayat-ayat Talmudisme. Bahkan Texe Marrs, investigator independen Amerika yang telah menelusuri garis darah Dinasti Bush selama enam tahun, menemukan bukti bahwa keluarga besar Bush, termasuk Presiden AS George Walker Bush, merupakan sebuah keluarga yang sangat rajin mendaras dan mempelajari Talmud.
“Dinasti Bush adalah dinasti Yahudi dan mereka menjadikan Talmud sebagai kitab sucinya. Adalah salah besar menyangka mereka sebagai keluarga Kristiani. Mereka menunggangi kekristenan untuk menipu warga Kristen dunia. Padahal, mereka merupakan keluarga Talmudis yang taat, ” demikian Texe Marrs.
Kita tentu sudah banyak mendengar tentang Talmud. Namun belum banyak yang mengetahui apa saja ayat-ayatnya. Berikut kami tampilkan sejumlah ayat-ayat Talmud yang menjadi dasar segala tindakan kaum Zionis terhadap orang-orang non-Yahudi (Ghoyim atau Gentilles), dan darinya Anda akan bisa “memahami” mengapa kaum Zionis selalu saja mau menang sendiri, selalu mengkhianati perjanjian, dan sebagainya. Inilah ayat-ayat suci mereka:
“Hanya orang-orang Yahudi yang manusia, sedangkan orang-orang non Yahudi bukanlah manusia, melainkan binatang.” (Kerithuth 6b hal.78, Jebhammoth 61a)
“Orang-orang non-Yahudi diciptakan sebagai budak untuk melayani orang-orang Yahudi.” (Midrasch Talpioth 225)
“Angka kelahiran orang-orang non-Yahudi harus ditekan sekecil mungkin.” (Zohar II, 4b)
“Orang-orang non-Yahudi harus dijauhi, bahkan lebih daripada babi yang sakit.” (Orach Chaiim 57, 6a)
“Tuhan (Yahweh) tidak pernah marah kepada orang-orang Yahudi, melainkan hanya (marah) kepada orang-orang non-Yahudi.” (Talmud IV/8/4a)
“Di mana saja mereka (orang-orang Yahudi) dating, mereka akan menjadi pangeran raja-raja.” (Sanhedrin 104a)
“Terhadap seorang non Yahudi tidak menjadikan orang Yahudi berzina. Bisa terkena hukuman bagi orang Yahudi hanya bila berzina dengan Yahudi lainnya, yaitu isteri seorang Yahudi. Isteri non-Yahudi tidak termasuk.” (Talmud IV/4/52b)
“Tidak ada isteri bagi non-Yahudi, mereka sesungguhnya bukan isterinya.” (Talmud IV/4/81 dan 82ab)
“Orang-orang Yahudi harus selalu berusaha untuk menipudaya orang-orang non-Yahudi.” (Zohar I, 168a)
“Jika dua orang Yahudi menipu orang non-Yahudi, mereka harus membagi keuntungannya.” (Choschen Ham 183, 7)
“Tetaplah terus berjual beli dengan orang-orang non-Yahudi, jika mereka harus membayar uang untuk itu.” (Abhodah Zarah 2a T)
“Tanah orang non-Yahudi, kepunyaan orang Yahudi yang pertama kali menggunakannya.” (Babba Bathra 54b)
“Setiap orang Yahudi boleh menggunakan kebohongan dan sumpah palsu untuk membawa seorang non-Yahudi kepada kejatuhan.” (Babha Kama 113a)
“Kepemilikan orang non-Yahudi seperti padang pasir yang tidak dimiliki; dan semua orang (setiap Yahudi) yang merampasnya, berarti telah memilikinya.” (Talmud IV/3/54b)
“Orang Yahudi boleh mengeksploitasi kesalahan orang non-Yahudi dan menipunya.” (Talmud IV/1/113b)
“Orang Yahudi boleh mempraktekan riba terhadap orang non-Yahudi.” (Talmud IV/2/70b)
“Ketika Messiah (Raja Yahudi Terakhir atau Ratu Adil) dating, semuanya akan menjadi budak-budak orang-orang Yahudi.” (Erubin 43b)
Inilah sebagian kecil dari ayat-ayat hitam Talmud. Inilah landasan ideologis kaum Zionis dalam hidupnya. Setiap hari Sabtu yang dianggap suci (Shabbath), mereka mendaras Talmud sepanjang hari dan mengkaji ayat-ayat di atas. Mereka menganggap Yahudi sebagai ras yang satu-satunya berhak disebut manusia. Sedangkan ras di luar Yahudi mereka anggap sebagai binatang, termasuk orang-orang liberalis yang malah melayani kepentingan kaum Zionis.(rizki)
sumber : eramuslim

Senin, 30 Juni 2008

Simbol Brotherhood Of The Snake Ada di Jakarta

Brotherhood of the Snake atau Kelompok Persaudaraan Ular, merupakan nama sebuah kelompok pengikut iblis yang paling awal lahir di dunia. Dari berbagai literatur sejarawan Barat, seperti yang ditulis J. Robinson dalam ‘The Secret Society’, kelompok persaudaraan ular inilah yang mengemban misi menyebarkan kesesatan kepada umat manusia sejak zaman Nabi adam a.s. hingga zaman kiwari.
Bahkan diduga kuat jika dari kelompok inilah lahir gerakan-gerakan penyesatan terhadap agama-agama samawi dunia. Kabbalah dan Talmud, sebagai doktrin iblis yang sampai sekarang dipercaya dengan segenap jiwa dan raga oleh kalangan Zionis sebagai pandangan hidup, juga berasal dari kelompok ini.
Di zaman purba, kelompok iblis ini menyempal di banyak pusat peradaban dunia. Mereka menjadi penasehat Raja Namrudz dan menghasut agar Ibrahim a.s. dibunuh. Saat Firaun berkuasa, mereka menamakan diri sebagai para pendeta Amon yang berada di lingkaran elit kekuasaan, lewat salah seorang tokohnya yang bernama Samiri (Shamir), mereka berupaya untuk terus menyesatkan Bani Israil dan menentang Musa a.s.
Di zaman Nabi Isa, kelompok iblis ini menjadi provokator bagi upaya pengejaran yang dilakukan Raja Herodes dan mereka dikenal sebagai para pendeta Sanhendrin. Bagi yang pernah menonton film The Passion of The Christ (disutradarai oleh Mel Gibson yang anti Zionis) yang menuturkan kisah penderitaan Yesus sebelum disalib (menurut versi Barat), kita akan bisa melihat di mana setiap kali kelompok Sanhendrin mencerca dan memaki Yesus, maka iblis selalu menampakkan diri di tengah-tengah kelompok ini.
Ke dalam Yudaisme, mereka merusak Taurat dan membuat Talmud yang dinyatakan mereka sebagai kitab suci yang lebih mulia ketimbang Taurat Musa. Ke dalam ajaran Nabi Isa a.s., mereka mengubah ajaran Isa a.s. yang sebenarnya terbatas hanya untuk kaumnya, menjadi sebuah ajaran yang ekspansif lewat tangan seorang Yahudi dari Tarsus bernama Paulus yang membuat Injil Perjanjian Baru. Ke dalam agama Islam, seorang Yahudi dari Yaman bernama Abdullah bin Saba’ pun bekerja untuk memecah umat tauhid ini menjadi dua golongan: Sunni dan Syiah. Inilah kerja kelompok ular yang sangat memusuhi ajaran yang lurus.
Di mana mereka berada, mereka selalu memberi sinyal keberadaan mereka dengan simbol-simbol ular. Mahkota emas Firaun di depannya ada lambang dua ular. Kuil Laelarium kota maksiat bernama Pompeii yang kemudian dihancurkan Allah lewat meletusnya Gunung Vesuvius namun bukti-bukti keberadaannya masih lestari hingga detik ini, juga terdapat banyak simbol-simbol ular. Demikian pula dengan simbol-simbol para Dewa Matahari yang bertebaran di muka bumi sampai ke Amerika Latin.
Di zaman modern, simbol kelompok ini, dua ekor ular melilit sebuah tongkat bersayap, entah mengapa dijadikan simbol kedokteran internasional.
Dan yang paling terang karena bentuk simbolnya benar-benar menjiplak simbol kelompok ular ini bisa dilihat dari tongkat Hermes, Dewa Yunani Kuno yang dipercaya menjadi kurir antara Tuhan dengan Manusia. Hermes yang merupakan anak dari Zeus dan Maia juga dianggap sebagai dewa perdagangan dan keberuntungan.
Ketika VOC yang merupakan maskapai perdagangan yahudi terbesar di dunia pada masanya menguasai Batavia (Jakarta), mereka meletakkan sebuah patung Hermes lengkap dengan tongkat Brotherhood of The Snake-nya di atas jembatan perempatan Harmoni. Kala itu wilayah Harmoni merupakan wilayah perniagaan terbesar di Batavia dan banyak para pedagang Yahudi berdagang arloji, kacamata, dan juga emas perak serta batu-batu mulia.
Sampai dengan tahun 1999 patung Hermes ini masih tetap berdiri di atas jembatan Harmoni, namun pada tahun itu sempat dikabarkan lenyap dicuri orang. Dinas Kepariwisataan DKI Jakarta menemukannya lalu agar keberadaannya aman, patung Hermes yang asli dipindahkan ke lokasi Museum Fatahillah di dekat Stasiun Beos Kota, Jakarta. Di atas jembatan Harmoni dibuat replikanya.
Apakah dengan demikian berarti kelompok persaudaraan ular ini pernah ada di Jakarta? Wallahu'alam. Yang jelas, jika Anda ingin melihat simbol Brothethood of the Snake dalam bentuk aslinya, silakan mampir ke Museum Fatahillah Jakarta.(rizki)
Sumber : eramuslim

Mengkritisi Peran Fatahillah di Jakarta

Setiap tanggal 22 Juni, warga Jakarta memperingati Hari Jadi Ibukota Negara ini dengan meriah. Biasanya, ada pesta rakyat di Ancol lengkap dengan panggung hiburan dan pesta kembang api. Pada 22 Juni 2008 ini, usia Jakarta sudah 481 tahun. Sebuah usia yang sudah sangat matang namun ironisnya, Jakarta dari hari ke hari kian menjadi kota yang tidak menyenangkan untuk ditinggali. Macet di mana-mana, dan jika hujan sebentar maka banjir pun segera menggenang. Ini hanyalah sedikit di antara setumpuk masalah ibukota negeri ini yang konon dibebaskan oleh seorang dai-pejuang bernama Fatahillah.
Benarkah Fatahillah merupakan seorang ulama yang membebaskan Jakarta? Sejarawan Betawi Drs. Ridwan Saidi menolak keras anggapan ini. “Banyak orang menganggap Fatahillah melakukan dakwah Islam di Jakarta. Ini tidak beralasan dan tidak benar sama sekali. Sebelum Fatahillah datang, sudah ada 3.000 orang Betawi yang Muslim. Bahkan ketika Fatahilah datang menyerbu kota ini, dia bersama pasukannya itu membumi-hanguskan kampung-kampung Muslim Betawi. Ada sekitar 3.000 rumah Muslim Betawi yang dihanguskan.”
“Bagi Muslim Betawi, Fatahillah itu penjahat. Dan tidak benar jika Fatahillah ke Jakara ini dalam rangka dakwah Islam. Ini harus dikoreksi. Saya telah meneliti sekian lama dan tidak pernah sedikit pun menemui sisa-sisa dakwah Fatahillah di kota ini. Sampai sekarang ini rumah orang-orang Betawi biasanya memajang poster Syekh Abdul Qadir al-Jilani atau yang lebih dikenal dengan sebutan Syekh Abdul Qadir Jaelani, juga poster Buroq, dan tidak pernah ada rumah orang Betawi memajang poster Fatahillah atau sesuatu yang berbua Cirebon atau Demak. Tradisi Islam yang ada di orang Betawi pun khas, sama sekali tidak ada bau-bau Islamnya Cirebon. Saya berani berdebat dengan siapa saja soal ini!” tegas Ridwan saat mengisi diskusi publik bertema “Meluruskan Sejarah Islam di Indonesia” di IKIP Muhamadiyah Jakarta (28/5).
“Jadi, Fatahillah bukanlah pahlawan umat Islam Indonesia. Dia lebih tepat disebut sebagai pahlawan Muslimnya Cirebon, bukan Muslim Jakarta. Kedatangan Fatahillah berikut pasukannya dari Cirebon pada tahun 1527 semata-mata untuk merebut pelabuhan Kalapa. Ia lalu membangun istana yang dikelilingi tembok tinggi di tepi barat Kali Besar. Orang-orang Betawi yang sudah Muslim saat itu, yang rumahnya berdiri di dekat istananya, diusir dan dibumi hanguskan. Omong kosong besar Fatahillah berdakwah. Jejak dakwahnya sama sekali tidak ada di ranah Betawi, ” lanjut Ridwan.
Ribuan unit rumah Muslim Betawi yang dibakar Fatahillah itu berada di Mandi Racan, Pasar Ikan (lihat De Quoto, 1532).
Sebab itu, Ridwan sangat sedih jika tiap tanggal 22 Juni, pemerintah merayakannya sebagai Hari Lahir Kota Jakarta. “Itu adalah hari pembumi-hangusan ribuan rumah Muslim Betawi. Juga hari terbunuhnya Syahbandar Wak Item yang juga seorang Muslim Betawi, ” ujar Ridwan.
Lantas siapa yang mengIslamkan Jakarta? Menurut penelitian Ridwan, sejak awal abad masehi, sebelum Islam lahir di Jazirah Arab, para pedagang Arab telah melakukan perdagangan di Jakarta sehingga sebelum Islam datang di tanah ini. Ini berarti orang Betawi asli sudah mengenal istilah-istilah Arab sebelum Hindu dan Budha hadir di Jawa. Kerajaan Tarumanegara saja bari berdiri di abad ke V Masehi atau sekiar tahun 400-an Masehi.
“Kata-kata seperti alim, kramat, adat, kubur, dan sebagainya sudah dikenal di Jakarta sebelum Islam lahir di Jazirah Arab, ” tegasnya.
Salah satu buktinya adalah prasasti Batu Jaya di Bekasi, sebelah timur pantai Pakis Jaya yang berumur lebih tua ketimbang situs Tarumanegara. “Di batu-batu itu terdapat ragam hias yang tidak ada sama sekali nuansa India, apalagi Cina. Saya amat terkejut ketika mendapati ragam hias ornamen di Batu Jaya itu lebih mirip ornamen Arab. Ini salah satu bukti saja, masih banyak yang lain, ” ujar Ridwan.
Beberapa sumber yang layak untuk ditelusuri lebih jauh adalah kitab Agryppa dari Claudius Ptelomius, lalu naskah Wangsakerta yang menyebut adanya Krajan (bukan kerajaan) bernama Salakanagara, Aki Tirem, dan sebagainya. “Ini temuan saya dan saya siap berdebat soal Fatahillah ini dengan siapa saja, ” tegas Ridwan. (rizki)
sumber : Eramuslim