Ketika diangkat sebagai khalifah, tepat sehari sesudahnya Abu Bakar r.a. terlihat berangkat ke pasar dengan barang dagangannya. Umar kebetulan bertemu dengannya di jalan dan mengingatkan bahwa di tangan Abu Bakar sekarang terpikul beban kenegaraan yang berat. “Mengapa kau masih saja pergi ke pasar untuk mengelola bisnis? Sedangkan negara mempunyai begitu banyak permasalahan yang harus dipecahkan…” sentil Umar.
Mendengar itu, Abu Bakar tersenyum. “Untuk mempertahankan hidup keluarga,” ujarnya singkat. “maka aku harus bekerja.”
Kejadian itu membuat Umar berpikir keras. Maka ia pun, bersama sahabat yang lain berkonsultasi dan menghitung pengeluaran rumah tangga khalifah sehari-hari. Tak lama, mereka menetapkan gaji tahunan 2,500 dirham untuk Abu Bakar, dan kemudian secara bertahap, belakangan ditingkatkan menjadi 500 dirham sebulan. Jika dikonversikan pada rupiah, maka gaji Khalifah Abu Bakar hanya sebebsar Rp. 72 juta dalam setahun, atau sekitar Rp 6 juta dalam sebulan. Sekadar informasi, nilai dirham tidak pernah berubah.
Meskipun gaji khalifah sebesar itu, Abu Bakar tidak pernah mengambil seluruhnya gajinya. Pada suatu hari istrinya berkata kepada Abu bakar, “Aku ingin membeli sedikit manisan.”
Abu Bakar menyahut, “Aku tidak memiliki uang yang cukup untuk membelinya.”
Istrinya berkata, “Jika engkau ijinkan, aku akan mencoba untuk menghemat uang belanja kita sehari-hari, sehingga aku dapat membeli manisan itu.”
Abu Bakar menyetujuinya.
Maka mulai saat itu istri Abu Bakar menabung sedikit demi sedikit, menyisihkan uang belanja mereka setiap hari. Beberapa hari kemudian uang itu pun terkumpul untuk membeli makanan yang diinginkan oleh istrinya. Setelah uang itu terkumpul, istrinya menyerahkan uang itu kepada suaminya untuk dibelikan bahan makanan tersebut.
Namun Abu Bakar berkata, “Nampaknya dari pengalaman ini, ternyata uang tunjangan yang kita peroleh dari Baitul Mal itu melebihi keperluan kita.” Lalu Abu bakar mengembalikan lagi uang yang sudah dikumpulkan oleh istrinya itu ke Baitul Mal. Dan sejak hari itu, uang tunjangan beliau telah dikurangi sejumlah uang yang dapat dihemat oleh istrinya.
Pada saat wafatnya, Abu Bakar hanya mempunyai sebuah sprei tua dan seekor unta, yang merupakan harta negara. Ini pun dikembalikannya kepada penggantinya, Umar bin Khattab. Umar pernah mengatakan, “Aku selalu saja tidak pernah bisa mengalahkan Abu Bakar dalam beramal shaleh.”(sa/berbagaisumber)
Rabu, 20 Januari 2010
Jumat, 04 Desember 2009
Orang - Orang Hebat Di Kereta
Setiap perjalanan pergi pulang ke tempat kerja dengan menggunakan jasa angkutan kereta api, ada hal rutin yang saya akan jumpai dan akan menjadi hiburan tersendiri bagi saya. Yup lalu lalang dan hiruk pikuk pedagang-pedagang kecil yang menjajakan berbagai macam jajanan atau makanan yang sudah cukup modern, juga minuman kemasan dengan berbagai merk yang beragam.
Hampir setiap waktu suara – suara yang khas itu akan mampir ditelinga saya, selain rentetan pengamen – pengamen yang silih berganti menghibur dengan lagu yang kadang sekedarnya alias asal bunyi yang kadang membuat sakit telinga orang yang mendengarnya .
Menyaksikan ibu – ibu yang umurnya mungkin sekitar 40-an dengan tak letihnya atau capek menurut saya dengan segala dagangan dan penganan yang ia jajakan membuat saya begitu takjub melihatnya, bapak-bapak dengan baju yang sekedarnya alias sudah lusuh dan berubah warna dengan tangan yang mengangkat ember minuman air mineral, anak-anak kecil dan lelaki muda yang menawarkan segala macam makanan kecil dan rokok.
Saya cukup yakin pekerjaan ini hampir setiap hari mereka lakukan, dan telah menjadi mata pencaharian untuk mencukupi kebutuhan hidup dan mengepulkan asap dapur agar kehidupan terus berlanjut.
Bapak – bapak dengan wajah kelelahan yang terpancar dari sembutar raut wajahnya, mungkin begitu beratnya kehidupan yang mereka alami, bahkan anak-anak kecil yang kadang-kadang sering melontarkan umpatan-umpatan kotor, entah bagaimana dan dari mana mereka mempelajarinya.
Melihat semua itu saya sedikit berandai – andai untuk menjadi mereka, setiap hari berjalan dari satu gerbong ke gerbong yang lain. Turun dari satu kereta kereta yang lain, dan harus sabar untuk bersaing mencari pembeli dengan persaingan yang terjadi dengan sesama pedagang di kereta.
Entahlah berapa penghasilan sehari yang mereka terima, puluhan ribuankah, ratusan, atau jutaan. Sebesar penghasilan orang-orang penting yang sering muncul dilayar kacakah. Apakah bisa cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup yang saya rasa semakin lama semakin mencekik.
Ah saya rasanya bukan orang-oarang hebat seperti mereka, kadang kala saja saya masih mengeluh untuk keperluan hidup ini, dan tak pernah berpikir untuk menambah sendiri pengahasilan.
Saya jadi teringat dengan ucapan bocah bintang film cilik di sinetron kiamat Sudah Dekat
” Syafeei, kata ibu aku, ketika aku pernah bertanya kenapa Allah itu menjadikan kita orang yang miskin, bukan berarti Allah ngak sayang sama kita. Justru begitu sayangnya Allah sama kita, makanya Ia menjadikan kita miskin, karena Allah tau kita sanggup untuk menjalani kehidupan yang miskin, dibandingkan dengan orang lain”
Ya pedagang-pedagang kecil di kereta dengan penghasilan yang tidak seberapa mungkin, adalah orang – orang hebat yang tak pernah muncul dilayar kaca atau surat khabar, karena anugrah kehebatan dan kedahsyatan untuk menjalani kehidupan sederhana itu langsung di berikan sendiri dari sang Maha Pencipta, karena Allah tahu orang-orang itulah yang dapat melakukannya. Jadi selamat atas anugerah itu.
Hampir setiap waktu suara – suara yang khas itu akan mampir ditelinga saya, selain rentetan pengamen – pengamen yang silih berganti menghibur dengan lagu yang kadang sekedarnya alias asal bunyi yang kadang membuat sakit telinga orang yang mendengarnya .
Menyaksikan ibu – ibu yang umurnya mungkin sekitar 40-an dengan tak letihnya atau capek menurut saya dengan segala dagangan dan penganan yang ia jajakan membuat saya begitu takjub melihatnya, bapak-bapak dengan baju yang sekedarnya alias sudah lusuh dan berubah warna dengan tangan yang mengangkat ember minuman air mineral, anak-anak kecil dan lelaki muda yang menawarkan segala macam makanan kecil dan rokok.
Saya cukup yakin pekerjaan ini hampir setiap hari mereka lakukan, dan telah menjadi mata pencaharian untuk mencukupi kebutuhan hidup dan mengepulkan asap dapur agar kehidupan terus berlanjut.
Bapak – bapak dengan wajah kelelahan yang terpancar dari sembutar raut wajahnya, mungkin begitu beratnya kehidupan yang mereka alami, bahkan anak-anak kecil yang kadang-kadang sering melontarkan umpatan-umpatan kotor, entah bagaimana dan dari mana mereka mempelajarinya.
Melihat semua itu saya sedikit berandai – andai untuk menjadi mereka, setiap hari berjalan dari satu gerbong ke gerbong yang lain. Turun dari satu kereta kereta yang lain, dan harus sabar untuk bersaing mencari pembeli dengan persaingan yang terjadi dengan sesama pedagang di kereta.
Entahlah berapa penghasilan sehari yang mereka terima, puluhan ribuankah, ratusan, atau jutaan. Sebesar penghasilan orang-orang penting yang sering muncul dilayar kacakah. Apakah bisa cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup yang saya rasa semakin lama semakin mencekik.
Ah saya rasanya bukan orang-oarang hebat seperti mereka, kadang kala saja saya masih mengeluh untuk keperluan hidup ini, dan tak pernah berpikir untuk menambah sendiri pengahasilan.
Saya jadi teringat dengan ucapan bocah bintang film cilik di sinetron kiamat Sudah Dekat
” Syafeei, kata ibu aku, ketika aku pernah bertanya kenapa Allah itu menjadikan kita orang yang miskin, bukan berarti Allah ngak sayang sama kita. Justru begitu sayangnya Allah sama kita, makanya Ia menjadikan kita miskin, karena Allah tau kita sanggup untuk menjalani kehidupan yang miskin, dibandingkan dengan orang lain”
Ya pedagang-pedagang kecil di kereta dengan penghasilan yang tidak seberapa mungkin, adalah orang – orang hebat yang tak pernah muncul dilayar kaca atau surat khabar, karena anugrah kehebatan dan kedahsyatan untuk menjalani kehidupan sederhana itu langsung di berikan sendiri dari sang Maha Pencipta, karena Allah tahu orang-orang itulah yang dapat melakukannya. Jadi selamat atas anugerah itu.
Ada Hikmah Dibalik Penghinaan
Ada saat saat dalam pergaulan, kau mungkin merasa direndahkan, merasa terhina atau merasa diremehkan karena kedudukan, status sosial atau jenis pekerjaan. Lalu kau merasa direndahkan sedemikian rupa hingga kau merasa dikucilkan atau merasa tak dianggap sama sekali atau bahkan tak "diorangkan" oleh orang lain, sabarlah dan ucapkan Alhamdulillah !
Loh gimana sih, Lagi dihina orang kok alhamdulillah ? Ya, karena pada saat kau merasa dihina atau memang betul-betul dihina atau bahkan mungkin di caci maki dihadapan orang banyak, katakan "alhamdulillah" mengapa ? Karena pada saat itu sedang terjadi transfer yang luar biasa cepatnya, dimana pahalamu sedang bertambah dari orang yang menghinamu, sedangkan dosa-dosamu sedang diambil orang yang sedang menghinamu. Nah bukankah itu membahagiakan, mendapat pahala gratis dan terhapus dosamu tanpa usaha.
Susah memang pada awalnya, dihina kok alhamdulillah ? Yang jelas tak perlu merasa terhina saat dihina orang lain, karena orang yang mudah menghina orang lain adalah bukan orang yang mulia. Jangan-jangan lebih hina dari orang yang sedang dihina. Lagi pula Dia dalam firmanNya mengatakan " Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokan kaum yang lain ( karena ) boleh jadi mereka ( yang diolok-olokan ) lebih baik dari mereka yang mengolok-olokan " (QS 49:11) Jelas sekali kan firmanNya itu. Jadi mengapa perlu bersedih atau sakit hati bila dihina orang lain ? Lagi pula hinaan itu ibarat kawah candradimuka, hati itu digodok sedemikian rupa, agar tak mudah goyah, tabah dan sabar. Jadilah ilalang yang diinjak-injak orang masih tetap hidup atau jadilah seperti baja yang makin di tempa, makin di palu makin kuat.
Kita sudah sama-sama mengetahui bahwa orang yang mulia sangat menghargai orang lain dan mudah memaafkan orang lain yang bersalah kepadanya. Jika terjadi sebalikknya itulah orang yang hina. Memang dalam kehidupan, orang begitu merasa sakit di hati bila mendapat penghinaan dari orang lain, sampai-sampai mungkin tidak bisa tidur karenanya, boleh jadi menimbulkan dendam yang membara hingga ada niat untuk membalas rasa sakit hati tersebut pada orang yang telah menghinannya.
Namun bila dihadapi dengan hati yang jernih, saat di hina, justru "alhamdulillah" karena saat itulah kita dapat mengetahui kualitas akhlak orang lain, saat itulah kita dapat mengetahui siapa sesungguhnya orang yang sedang menghina itu. Dan boleh jadi saat di hina kita segera dapat mengintropeksi diri, jangan-jangan kita memang pantas untuk dihina, karena kelakuan, perkataan atau perbuatan kita sendiri. Jika memang hinaan itu benar, kata "alhamdulillah"pun masih tepat, karena secara tidak langsung, orang yang sedang menghina itu telah menunjuki kesalahan kita.
Alhamdulillah, ada "konsultan" gratis yang tanpa diminta telah menunjukan kesalahan kita. Dengan demikian, kita akan segera memperbaiki diri. Nah bukankah hinaan itu membawa hikmah ? Nah bukankah kalau kita mendapat hikmah, kita bersyukur ? Sedangkan kata yang paling tepat untuk bersyukur adalah alhamdulillah.
Kata alhamdulillah kelihatanya sederhana, namun mengadung makna yang luar biasa. Bila saat di hina atau merasa dikucilkan saja sudah mampu mengucapkan alhmdulillah, apa lagi bila mendapat rejeki, pujian atau mendapat sesuatu yang baik, sudah sepantasnya kita mengucapkan kata "alhamdulillah", segala puji bagi Allah, kita kembalikan pujian tersebut kepada Allah SWT, karena memang Dialah yang pantas mendapat pujian !
Loh gimana sih, Lagi dihina orang kok alhamdulillah ? Ya, karena pada saat kau merasa dihina atau memang betul-betul dihina atau bahkan mungkin di caci maki dihadapan orang banyak, katakan "alhamdulillah" mengapa ? Karena pada saat itu sedang terjadi transfer yang luar biasa cepatnya, dimana pahalamu sedang bertambah dari orang yang menghinamu, sedangkan dosa-dosamu sedang diambil orang yang sedang menghinamu. Nah bukankah itu membahagiakan, mendapat pahala gratis dan terhapus dosamu tanpa usaha.
Susah memang pada awalnya, dihina kok alhamdulillah ? Yang jelas tak perlu merasa terhina saat dihina orang lain, karena orang yang mudah menghina orang lain adalah bukan orang yang mulia. Jangan-jangan lebih hina dari orang yang sedang dihina. Lagi pula Dia dalam firmanNya mengatakan " Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokan kaum yang lain ( karena ) boleh jadi mereka ( yang diolok-olokan ) lebih baik dari mereka yang mengolok-olokan " (QS 49:11) Jelas sekali kan firmanNya itu. Jadi mengapa perlu bersedih atau sakit hati bila dihina orang lain ? Lagi pula hinaan itu ibarat kawah candradimuka, hati itu digodok sedemikian rupa, agar tak mudah goyah, tabah dan sabar. Jadilah ilalang yang diinjak-injak orang masih tetap hidup atau jadilah seperti baja yang makin di tempa, makin di palu makin kuat.
Kita sudah sama-sama mengetahui bahwa orang yang mulia sangat menghargai orang lain dan mudah memaafkan orang lain yang bersalah kepadanya. Jika terjadi sebalikknya itulah orang yang hina. Memang dalam kehidupan, orang begitu merasa sakit di hati bila mendapat penghinaan dari orang lain, sampai-sampai mungkin tidak bisa tidur karenanya, boleh jadi menimbulkan dendam yang membara hingga ada niat untuk membalas rasa sakit hati tersebut pada orang yang telah menghinannya.
Namun bila dihadapi dengan hati yang jernih, saat di hina, justru "alhamdulillah" karena saat itulah kita dapat mengetahui kualitas akhlak orang lain, saat itulah kita dapat mengetahui siapa sesungguhnya orang yang sedang menghina itu. Dan boleh jadi saat di hina kita segera dapat mengintropeksi diri, jangan-jangan kita memang pantas untuk dihina, karena kelakuan, perkataan atau perbuatan kita sendiri. Jika memang hinaan itu benar, kata "alhamdulillah"pun masih tepat, karena secara tidak langsung, orang yang sedang menghina itu telah menunjuki kesalahan kita.
Alhamdulillah, ada "konsultan" gratis yang tanpa diminta telah menunjukan kesalahan kita. Dengan demikian, kita akan segera memperbaiki diri. Nah bukankah hinaan itu membawa hikmah ? Nah bukankah kalau kita mendapat hikmah, kita bersyukur ? Sedangkan kata yang paling tepat untuk bersyukur adalah alhamdulillah.
Kata alhamdulillah kelihatanya sederhana, namun mengadung makna yang luar biasa. Bila saat di hina atau merasa dikucilkan saja sudah mampu mengucapkan alhmdulillah, apa lagi bila mendapat rejeki, pujian atau mendapat sesuatu yang baik, sudah sepantasnya kita mengucapkan kata "alhamdulillah", segala puji bagi Allah, kita kembalikan pujian tersebut kepada Allah SWT, karena memang Dialah yang pantas mendapat pujian !
Langganan:
Postingan (Atom)