Senin, 17 November 2008

Menapaki Sejarah Masjid Jumat dan Masjid Quba di Madinah




Kota Madinah Al-Munawarah yang dikenal sebagai kota nabi karena Rasulullah SAW sempat berdakwah selama 10 tahun disana. Selain tempat suci, Masjid Nabawi ramai yang dikunjungi oleh jamaah pada musim haji. Masih ada masjid-masjid bersejarah yang bisa dikunjungi selama di kota Madinah, salah satunya Masjid Jum'at, masjid sederhana yang letaknya tidak jauh dari Masjid Quba itu menjadi daya tarik sendiri bagi jamaah haji asal Indonesia.
Masjid pertama tempat dilaksanakan sholat Jum'at oleh Rasulullah SAW, setelah hijrah ke Madinah bersama kaum muhajirin itu, masih terpelihara dengan baik. Akan tetapi, jamaah haji yang berkunjung kesana hanya bisa berdoa diluar pintu, karena masjid tersebut hanya dibuka pada waktu-waktu sholat saja.
"Masjid Jum'at ini merupakan masjid pertama digunakan oleh Rasulullah di Madinah, maka setiap tahun ke Madinah, saya mengajak jamaah ke masjid yang sangat bersejarah, dimana pertama kali Rasul bersama dengan kaum muhajirin dari Mekkah untuk sholat Jum'at disini," kata H. Bakri, Pimpinan Rombongan Jamaah Haji dari Cipondoh, Tangerang, Banten.
Ia mengaku, sangat bangga dan bersyukur dapat membawa rombongan untuk menjejaki tempat-tempat bersejarah di kota Madinah, untuk memberikan pencerahaan kepada umat Islam agar kembali mengingat perjalanan dan perjuangan yang dilakukan Rasulullah Muhammad SAW dalam menyebarkan ajaran Islam.
Meski sudah mengalami renovasi dan perbaikan, Bakri sangat gembira karen masih ada perhatian yang besar dari pemerintah Arab Saudi untuk menjaga dan mengabadikan bukti-bukti sejarah perjuangan Nabi SAW.
Ungkapan serupa juga disampaikan jamaah haji lainnya, Heri Purnomo yang sangat bersyukur bisa sampai di masjid yang mengiringi perjalanan dakwah Nabi Muhammad SAw, ketika tiba di Madinah.
"Mudah-mudahan sejarah nabi seperti ini jangan hilang dan ditutup-tutupi. Alhamdulillah bagu sekali senang sekali, kami baru kesini, bagus subhanallah, saya bangga dengan perjuangan Nabi Muhammad," ujarnya.
Rombongan yang berjumlah sekitar 200 orang itu berfoto dan mengumandangkan takbir, untuk selanjutnya melanjutkan perjalanannya ke Masjid Quba. Masjid Quba adalah masjid pertama yang dibangun oleh Rasulullah saw. pada tahun 1 Hijriyah atau 622 Masehi di Quba, sekitar 5 km di sebelah tenggara kota Madinah.
Allah SWT memuji masjid ini dengan Firman-Nya: "Sesungguhnya masjid itu yang didirikan atas dasar takwa (Masjid Quba) sejak hari pertama adalah lebih patut bagimu (Hai Muhammad) bersembahyang di dalamnya. Di dalamnya terdapat orang-orang yang ingin membersihkan diri.......(At Taubah, 108).
Pada waktu mendirikan Masjid Quba, Nabi Muhammad SAW menunjukkan suri teladan dan kerjasamanya . Beliau turut mengangkat batu, sehingga tampak pada wajahnya yang mulia bekas letih bekerja berat.Dan Nabi SAW juga yang pertama kali meletakkan batu di mihrab adalah Rasulullah SAW sendiri, kemudian disusul berturut-turut Abu Bakar, Umar, dan Usman. Siapakah yang dapat menyangka bahwa urusan peletakan batu kiblat ini ada hubungannya kemudian dengan sejarah pengangkatan khulafaur rasyidin
Masjid yang memiliki daya tampung hingga 20 ribu jamaah ini telah beberapa kali mengalami renovasi. Khalifah Umar bin Abdul Aziz adalah orang pertama yang membangun menara masjid ini. (novel)

Jabal Magnet Keajaiban Alam di Madinah


Madinah selain dikenal sebagai kota nabi, memiliki panorama alam yang indah yang dikelilingi oleh deretan perbukitan atau dalam bahasa Arab dikenal jabal. Disamping jabal Uhud yang terkenal karena sejarah peperangan zaman Rasulullah SAW, ada lagi jabal magnet, tempat wisata yang menarik jamaah haji termasuk Indonesia itu, terletak sekitar 30 KM dari kota Madinah menuju arah kota Tabuk.
Namun, jabal magnet yang sudah terkenal dikalangan jamaah haji Indonesia itu, ternyata tidak dikenal oleh warga asli Madinah, bahkan yang lebih tahu adalah warga Madinah yang merupakan pendatang. Dan setelah diketahui, ternyata warga asli Madinah menyebutnya bukan dengan jabal magnet (bukit magnet), tetapi Manthaqotul Baido (tanah putih).
Jabal magnet terletak diluar wilayah haram, kawasan ini ditempuh sekitar 30 menit dari pusat kota Madinah. Untuk mengakses ke arah jabal magnet melalui hamparan pasir, pepohonan dan gunung berbatu menambah keindahannya. Konon jabal magnet ini merupakan pusat magnet terbesar didunia, hal ini dirasakan dari daya magnet terhadap mobil yang dalam posisi perseneling netral, mobil dapat melaju kencang. Sebaliknya, kendaraan yang melintas menuju di jabal magnet akan terasa berat, karena terjadi arus tarik menarik.
Jalan-jalan di kota Madinah menurun, namun kondisinya tidak curam, yang mengherankan, ketika kendaraan terus melaju dengan kecepatan tinggi hingga mencapai 120 KM/jam, meski mesin mobil dimatikan. Namun, keajaiban yang ada di tanah suci itu hanya berlangsung sekira 2-3 kilometer.
Melihat fenomena yang ada itu, membuat kita bertanya-tanya akan keajaiban dari ciptaan Allah. Hanya Dialah yang mengetahui rahasia dibalik semua ciptaannya.(novel)

Keunikan Masjid Qiblatain, Tak Pernah Sepi Pengunjung


Madinah yang dikenal sebagai kota nabi itu memang menyimpan sejumlah tempat dan masjid bersejarah, meski Arab Saudi tidak memasukan Masjid Qiblatain daftar masjid yang wajib dikunjungi dalam rangkaian ibadah di tanah suci Madinah, namun masjid dengan dua kiblat ini tidak pernah sepi dari kunjungan jamaah haji selama musim haji, termasuk jamaah haji asal Indonesia.
Antusias jamaah haji untuk mengunjungi masjid ini untuk mengenang kembali proses pernyebaran Islam pada zaman Rasulullah Muhammad SAW juga untuk menyaksikan keunikan masjid dengan kiblat, yaitu satu kearah Al Quds, Yerusalem, dan satu lagi ke arah Baitullah, Mekkah.
Sebagaimana firman Allah dalam surat Ali Imran ayat 96, bahwa "Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, Baitullah yang di Makkah yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia".
Pada awalnya kiblat (arah sholat) untuk semua Nabi adalah Baitullah di Mekkah yang dibangun pada masa Nabi Adam AS, kemudian Nabi Ibrahim AS dan Ismail AS mengikuti kiblat ini, dan selanjutnya Al Quds juga ditetapkan sebagai kiblat untuk sebagian dari para Nabi. Para Nabi ini ketika shalat didalam Al-Quds, biasa menghadap pada arah sedemikian rupa, sehingga kedua-duanya baik Al-Quds dan Baitullah di Mekkah berada dihadapan beliau.
Seperti disebutkan dalam hadist Bukhari, Nabi Muhammad SAW melakukan sholat di Madinah menghadap ke Al Quds untuk enam belas hari atau tujuh belas bulan. Beliau secara totla patuh kepada perintah Allah SWT, bagaimana pun menginginkan kiblat yang sama dengan Nabi Adam AS dan Ibrahim AS. Permohonan Nabi Muhammad SAW pun dikabulkan Allah, Rasulullah menerima wahyu, yang mengisyaratkan agar memalingkan wajah ke arah Masjidil Haram.
Masjid ini terletak sekitar 7 kilometer dari Masjib Nabawi di Madinah. Pada saat musim Haji seperti saat ini Masjid Qiblatain merupakan salah satu tempat favorit yang dikunjungi jamaah calon Haji dari berbagai negara, termasuk jamaah asal Indonesia menunggu datangnya puncak pelaksanaan ibadah haji. Hal itu disampaikan oleh Salah satu jamaah haji Hoesnan Amir yang, mengaku sudah sering membawa rombongan jamaah haji Indonesia untuk melihat keagungan masjid Qiblatain.
"Disini banyak bisa kita ambil hikmah, menambah wawasan pengalaman dari pendahulu kita, disamping mendapatkan ibrah dari rangkaian ziarah-ziarah yang telah dilakukan. Karenakan jamaah tidak mungkin setahun sekali datang ke Madinah, apabila ada kesempatan untuk berziarah alangkah baiknya kalau bisa berkunjung ke masjid ini," ungkapnya.
Tak apabila Masjid Qiblatain selalu dipenuhi jamaah setiap harinya. Selain untuk menunaikan sholat juga untuk melihat langsung keunikan dan keindahan Masjid ini. (novel)